KARIMUNJAWA : PETUALANGAN PEJUANG SELAM


Wapeala mengadakan pendidikan dan latihan selam di Karimunjawa (24/7). Kegiatan ini merupakan pendidikan tingkat lanjut (Dikjut) bagi Anggota Biasa yang ingin menekuni  divisi selam. Bukan sekadar skill, tujuan dari Pendidikan ini adalah melatih manajemen dalam melaksanakan suatu aktivitas kepetualangan.

Perjalanan Semarang-Jepara , 17 July 2018
Saya bersama Wili dan Brilli serta Instruktur selam WAPEALA yang mengikuti maupun mendapingi adalah Revaldy dan David. Kami membawa peralatan selam sendiri, kecuali tabung SCUBA yang sangat merepotkan kami untuk membawanya. Kami akan sewa di Karimunjawa Besar. Lantas saja ada anggota yang memanggil kami Pejuang Karimun. Siang hari nan terik, Kami naik bus dari Terminal Terboyo (Semarang) menuju Alun-Alun Kota Jepara. Rasa kantuk telah tiba mengharuskan kami untuk tidur. Kami sangat bersykur sekali karena salah satu anggota biasa WAPEALA ada yang bertempat tingga di Kota Jepara. Kami menumpang sejenak di Rumah Farah menunggu pagi buta untuk naik Kapal Ferry ASDP. Farah menjadi tourguide selama perjalanan di Karimunjawa.

Jepara-Karimunjawa Besar, 18 July 2018
Permulaan berasal dari sini, Pelabuhan Kartini, pagi hari. Dingin sekali bung. Mengantri sembari menunggu fajar tiba. Layaknya kata para pujangga, menunggu itu menjenuhkan. Saya dan Wili mendapatkan tiket. Kapal berangkat pukul 06.30 WIB, dua jam setelah kami membeli tiket.
Kami tiba di Karimunjawa Besar lalu kapal kceil yang menjemput kami sudah menunggu. Ternyat itu kapal milik keluarga Farah. Kami menuju ke Menjangan Besar. Langsung saja tanpa basa-basi, kami melakukan aktivitas camp setelah sampai disana.


Menjangan Besar, 19-20 July 2018
Akomodasi yang telah kami pilih tepat sekali. Kemah di pinggir pantai ,angin pagi menari-nari menemai olahraga pagi. Kami memulai diklat setelah pemanasan. Kami latihan watertrap selama satu jam, fin swimming sejauh 5 Km, dan refresh materi selam selama satu jam. Aku, Wili, dan Brili boleh memakai peralatan selam. Kami melakukan SCUBA Diving secara bergantian, karena hanya membawa 2 set alat selam saja. Instruktur menemani kami, sehingga hanya ada 3 kloter penyelaman. Kami menyelam di area dekat dermaga dengan kedalaman 12 meter.


Dive spot Indonoor, 21 July 2018
Salah satu Dive spot favorit para penyelam di Karimunjawa dan termasuk yang paling terkenal. Spot ini bernama Indonoor berdasarkan nama kapal Indonesia-Noorwegia. Spot tersebut adalah kapal yang mengangkut batu bara itu karam pada 1960-an .
Indonoor menawarkan panorama alam bawah laut yang indah. Saya sangat beruntung bertemu dengan penyu dan ikan bumphead. Para penjarah mencuri dan memotong besi-besi kapal karam tersebut. Namun, bentuk kapal masih bisa saya lihat dengan jelas, bahkan saya dapat masuk ke ruang kemudi. Sisa-sisa batu bara masih terdapat banyak menghampar luas. Kedalaman di spot ini mencapai 18 meter.
Ada cerita yang mengatakan bahwa siapapun yang mengambil batu bara Indonoor, maka tak selang beberapa hari akan putus dengan kekasihnya. Entah mitos atau fakta, banyak orang yang telah mengalami kejadian ini. Percaya atau tidak, anda bisa buktikan sendiri.
Tapi, saya tetap mengambil, saya kan jomblo, hehehehhe……

Karimunjawa Besar, 22 July 2018
Sebelum pulang ke Semarang, kami menghabiskan waktu selama seharian di Karimunjawa Besar. Kami tidak mendirikan tenda, melainkan menginap di rumah Farah yang berada di Karimunjawa Besar. Siang hari dipakai untuk beristirahat, saya membersihkan alat, sedangkan Wili dan Brili melakukan sosialisasi di Ujung Gelam mengennai tanaman hidroponik. Malam hari merupakan pesta penutupan gerilya para pejuang karimun WAPEALA. Kami menghabiskan malam-malam dengan berkeliling kota kecil ini. Tak lupa kami berpesta kuliner di alun-alun kota yang terkenal dengan hidangan seafood bakarnya.


Penulis : Muhammad Naufal Nurrahman (W-711 Dp)

Postingan populer dari blog ini

pengenalan diving (mari menyelam).

Gunung Slamet, Keparingan Slamet Dumugi Mandhap.

Mahameru, Butiran Pasir Keteguhan