CERITA PERJALANAN : SERUNYA LEWATI JERAM SIMULASI DI SUNGAI ELO


Ekspedisi Swarnadwipa merupakan salah satu program kerja besar dari WAPEALA UNDIP. Ekspedisi merupakan salah satu ajang untuk menunjukkan bakat-bakat terbaik atlet divisi arung jeram (rafting). Karena tidak sembarangan sungai yang akan ditaklukan, yaitu Sungai Asahan (Sumatera Utara), Sungai Alas dan Batang Tarusan

WAPEALA menyelenggarakan soft simulation di Sungai Elo, Magelang, selama tiga hari. Tujuan dilakukan simulasi ini sebagai salah satu bentuk pendidikan dan latihan untuk persiapan Ekspedisi Swarnadwipa.


Persiapan dimulai pada Jumat, (6/4), setelah ibadah Sholat Jumat. Seluruh panita sibuk berbenah dan memeriksa alat yang diperlukan dalam kegiatan simulasi. Upacara pelepasan wajib dilakukan sebelum atlet dan panitia berangkat.Tak lupa setelah upacara selesai kami selalu berteriak “WAPEALA, WAPEALA, WAPEALA!”, sebagai penyulut semangat kami untuk berkegiatan pada saat itu.

Sopir mobil telah berada di tempat dan menjemput tim ekspedisi. Perjalanan kami diisi dengan nyanyi-nyanyi riang, bahkan tidak jenuh-jenuhnya berubah genre lagu: pop, dangdut, western, dll. Mobil yang kami tumpangi seketika menjadi tempat karaoke, panggung kontes pencarian bakat suara, atau bisa dikatakan sebagai kebun binatang berjalan. Kerasnya suara kami mengalahkan bisingnya kendaraan jalan, bahkan menjadi pusat perhatian selama perjalanan.

Sesampainya malam hari di lokasi, Kedung Celeng, kami disambut tim pendahulu. Tiga tenda dan bivak telah didirikan. Makanan telah menyambut kami. Enak sekali rasanya, makan malam hari dibawah bintang dan disinari cahaya bulan, semua menyantap dengan lahap. Mungkin efek dari kehilangan energi saat bernyayi-nyanyi tadi. Panitia tiba-tiba mengajak berkumpul. Atlet diberi pengarahan untuk simulasi esok hari. Instruksi panitia kepada atlet untuk hari ini adalah segera tidur di tenda. Akhirnya, kami menghangatkan diri, kami kedinginan karena angin malam ini telah mengalahkan hangatnya tubuh kami.



Suara Adzan berkumandang, Sabtu, (7/4), semua bangun dan bersiap untuk aktivitas hari ini dan menjalankan kewajiban masing-masing. Kami diberi waktu solat subuh. Sembari menunggu, beberapa panitia menyiapkan sarapan. Perut kami dibuat kenyang kembali dengan makanan dan minuman yang enak-enak. Baru saja diisi penuh perut, kami para atlet diinstruksikan untuk pemanasan tubuh. Diklat hari ini dibuka dengan renang jeram sebagai Lathan self rescue,  di jeram Kedung Celeng. Adrenalin kami dipacu dan terpacu. Bagaimana tidak, makanan belum terserap sepenuhnya tapi sudah harus berenang ke tepian untuk menyelamatkan diri. Kami hanya diberi waktu lima menit untuk istirahat. Diklat dilanjutkan upstream, yaitu mendayung perahu melawan arus sungai. Tidak tahu sudah berapa lama kami berusaha mengalahkan arus. Kami hanya diberi waktu untuk istirahat, makan, dan solat selama satu jam. Tak disangka, makanan telah disiapkan oleh panitia, bahan bakar tubuh kami terisi penuh. Kami kembali melakukan upstream dengan begitu semangat bahkan tak luntur walaupun pada saat itu terjadi hujan. Adrenalin kami terpacu kembali melawan arus yang semakin deras. Terlihat sesuatu melintas ke arah perahu. Ternyata ada bola hanyut, dengan sigapnya arah perahu tertuju kesana. Kami ambil bola itu sebagai buah tangan dari Sungai Elo. Bolanya memang bekas, tapi kenangan yang terdapat disana sangat berharga.

Selesai sudah diklat hari pertama menjelang sore dihiasi hujan yang tidak mereda. Kami membersihkan badan, melakukan aktifitas camp, tentunya makan enak lagi dan tak lupa beribadah kepada Allah Swt. Seperti biasa, panitia, instruktur, dan atlet melakukan evaluasi dan pengarahan untuk kegiatan besok. Atlet dipersilahkan tidur terlebih dahulu karena persiapan fisik lebih diutamkan.

Semua sudah terbangun, Minggu, (8/4), semua berkemas untuk persiapan pulang, lanjut sholat, sarapan, pemanasan. Karena jadwal kegiatan pada hari ini sudah pulang pada sore pukul 17:00 WIB. Hari yang paling dinanti oleh para atlet. Kami melakukan pengarungan bahkan tiga kali dalam hari ini. Semua atlet diharuskan untuk menjadi skipper. Tim panitia dibagi menjadi dua, yaitu beberapa mengikuti pengarungan dan sisanya menyiapkan makan, komunikasi, dan menjaga barang-barang. Perahu yang digunakan adalah dua. Perahu pertama berwarna jingga yang kami pakai latihan milik WAPEALA dan perahu berwarna merah yang kami sewa di salah satu operator. “Diklat rasa fun rafting” merupakan judul yang cocok untuk memulai pagi ini. Semua membaur antara atlet dan panitia di dalam satu perahu. Dua atlet di perahu merah yaitu Naufal dan Irvan. Lainnya di perahu jingga yaitu Tahmida, Rabith,Malik.

Pengarungan pertama, dua orang pertama yang merasakan menjadi skipper adalah Rabith dan Irvan. Mereka terlihat menikmati perjalanan dan sudah seperti professional. Namun, kami diberi kejutam untuk menepi di salah satu jeram. Ternyata kami diinstruksikan untuk renang jeram. Mau tak mau, kami harus melewati jeram itu. Menegangkan, letih, dan takut kami tahan terlebih dahulu untuk menyelamatkan nyawa. Semua berjalan dengan mulus tanpa ada kesalahan. Semua telah menepi. Tak menyia-nyiakan waktu langsung lanjut menuju finish. Lalu kembali ke start. Mobil jemputan telah menunggu kami untuk membawa ke tujuan ( start point ).

Pengarungan kedua, skipper yaitu Naufal dan Tahmida. Sama seperti sebelumnya, mereka menikmati pengarungan. Tak terlihat wajah tegang diantaranya. Awalnya memang berjalan lancar. Seketika masalah muncul ketika perahu yang dikapteni oleh Naufal tersangkut di batu yang terdapat di daerah penyempitan lebar sungai. Karena segala usaha yang dilakukan tidak membuahkan solusi, satu orang harus turun dari perahu. Tiba-tiba salah satu tim kami terhanyut yaitu Revaldy karena tidak bisa menahan derasnya sungai. Naufal dan tim secepat mungkin untuk lepas dari jeratan batu. Semua mendayung untuk menyelamatkan Revaldy. Untunglah arusnya tidak begitu deras dan banyak perahu wisatawan disana. Kami langsung mengangkatnya ke perahu dan melanjutkan perjalanan hingga finish. Kembali kes start point  dengan mobil jemputan.

Sebelum pengarungan terakhir, semua dipersilahkan untuk istirahat, solat, dan makan. Makan terlebih dahulu supaya kuat menaklukan Sungai Elo. Kami langsung melanjutkan pengarungan. Skipper penutup pengarungan adalah Malik. Perahu jingga diisi oleh atlet sesuai pekataan instruktur. Artinya,perahu atlet dipimpin oleh Malik. Kami akhirnya mengarung bersama sesame atlet. Kekompakan kami diuji oleh jeram-jeram yang telah menunggu hantaman perahu jingga WAPEALA. Sesi pengarungan terakhir ini diadakan pengambilan shooting video dokumentasi pengarunga. Akhirnya, masuk sosmed WAPEALA !

Tragedi perahu tersangkut terjadi lagi. Perahu atlet terjebak di jeram terakhir. Ini lebih parah dari yang sebelumnya. Kondisi perahu kurang berisi angin sehigga sulit untuk perahu terlepas dari batu jeram. Kami berpindah posisi sana-sini, mendorong perahu sekuat tenaga, bahkan irvan harus berdiri di salah satu jeram untuk mendorong perahu. Irvan menjadi hero untuk para atlet pada sesi penutup.

Kami langsung kembali ke lokasi camp dengan mobil yang telah menunggu kami di finish. Istirahat, solat, mandi sesampai di Kedung Celeng.Karena barang kami masih disana semua. Tak berselang lama mobil dari Semarang tiba menjemput. Saatnya kami berpisah dari Sungai Elo. Semoga kita bertemu di lain hari dengan suasana hati ceria gembira seperti ini lagi. Aamiin.

Postingan populer dari blog ini

pengenalan diving (mari menyelam).

Gunung Slamet, Keparingan Slamet Dumugi Mandhap.

Mahameru, Butiran Pasir Keteguhan