PEMBINAAN KADER KONSERVASI ALAM DAN KELOMPOK PECINTA ALAM


Semarang, 10 November 2017

Kamis, 9 November 2017 merupakan hari libur bagi saya, karena tidak ada satu mata kuliahpun yang masuk. Untuk mengisi kekosongan hari ini saya menerima untuk menjadi delegasi WAPEALA mengikuti Pembinaan Kader Konservasi Alam (KKA) dan Kelompok Pecinta Alam (KPA) yang diadakan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK). Menurut saya kegiatan ini dilakukan dengan melihat semakin menurunnya tingkat perhatian manusia terhadap alam. Dalam kesempatan ini WAPEALA diundang untuk mengirimkan dua orang sebagai delegasi. Selain saya ada satu lagi delegasi yaitu Mbak Prafani Viska (W- 696 Nl).

Pagi hari saya sempat berpikir untuk tidak jadi menghadiri undangan tersebut karena ada asistensi praktikum. Namun akhirnya saya memutuskan untuk datang karena asistensi sore hari dan kemungkinan masih bisa mengikuti. Kegiatan pembinaan tersebut dilaksanakan di Hotel Garuda, Jl. Raya Salatiga – Magelang Km. 14, Kopeng, Kab. Semarang. Mengetahui bahwa kegiatan dilaksanakan di Kopeng dan dimulai pukul 09.00 WIB saya bergegas untuk bersiap-siap. Rencana berangkat pukul 07.30 WIB tidak terealisasi karena ada satu dan yang lain hal. Oke, telat sedikit menjadi masalah. Langsung saya berangkat menuju kost Mbak Fani karena dapat kabar dari Ayudha bahwa Mbak Fani belum bangun. Setelah itu menunggu Mbak Fani siap-siap dan jam 08.00 berangkat. Tapi tidak!!! Ternyata kita mendapat satu tugas lagi yaitu untuk sekalian menyebarkan surat survei ke daerah Ungaran dan suratnya belum siap untuk kami bawa. Surat masih ada yang berada di kantor Mbak Jati (Pembina WAPEALA) dan ada surat yang belum diprint. Kita bagi tugas, saya ambil surat di Mbak Jati, Ayudha print surat dan Mbak Fani beli lakban untuk jilid proposal. Oke selesai akhirnya pukul 09.00 kami pun berangkat menuju lokasi pembinaan KKA dan KPA.
Pukul 10.30 sampailah kami di Hotel Garuda Kopeng, setelah sempat salah jalan. Benar kami terlambat, dan sudah setengah pemaparan materi pertama oleh Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, Ir. Suharman, MM. Judul materi pertama yaitu Pemanfaatan dan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar. Pada materi pertama dibahas tentang perdagangan ilegal satwa liar, pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar, serta peredarannya di lingkungan. Dalam pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar dapat dilakukan dengan bermacam cara, yaitu komersil (berupa penangkaran, perdagangan komersial, dan budidaya tanaman obat) dan non komersial (berupa penelitian dan pengembangan, peragaan non komersial, pertukaran, perburuan, pemeiliharaan untuk kesenangan).
Pada materi tersebut pokok utama yang dibahas adalah bagaimana melestarikan tumbuhan dan satwa liar yang terancam kepunahan yang disebabkan oleh kondisi lingkungan maupun ulah manusia. Salah satu cara komersialnya adalah dengan penangkaran. Dimana orang yang ingin melakukan penangkaran harus memiliki legalitas atau ijin secara resmi dengan badan hukum sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan. Salah satu kewajiban yang harus dilakukan penangkar yaitu dengan pengembalian habitat Tumbuhan dan Satwa Liat (TSL) ke habitat alamnya dengan sedikitnya 10% dari hasil penangkaran.
Materi selanjutnya adalah Pengendalian Kebakaran Hutan yang disampaikan oleh Bapak Hendro Prasojo. Tipe kebakaran hutan ada 3 yaitu, kebakaran bawah, kebakaran permukaan, dan kebakaran tajuk (dari bawah ke atas). Pada materi ini terdapat 3 prinsip dalam melakukan pengendalian kebakaran hutan yaitu pencegahan, pemadaman, dan pemulihan setelah kebakaran.
Materi terakhir adalah Budidaya dan Pemanfaatan Satwa Burung Hantu (Tyto alba) di Tlogoweru, Guntur, Demak, Jawa Tengah yang dibawakan oleh Bapak Kades dan Mbah Sumanti dari Desa Tlogoweru. Materi ini cukup menarik karena menjelaskan tentang pemanfaatan satwa burung hantu yang dijadikan sebagai pembasmi hama tikus pada pertanian Desa Tlogoweru. Sebelum tercetusnya budidaya satwa burung hantu ini Desa Tologoweru mengalami gagal panen. Namun setelah adanya budidaya burung hantu panen mencapai 10M. Pada materi ini dijelaskan mengenai cara pengembangan burung hantu yaitu dengan dibuatkan suatu rumah yang dinamakan RUBUHA (Rumah Burung Hantu) dengan sebelumnya telah memahami karakteristik burung hantu jenis Tyto alba tersebut. Hal lain yang menarik adalah berbagai daerah mengundang inisiator budidaya jenis hewan ini yaitu Bapak Kades Desa Tlogoweru hingga ke berbagai penjuru dunia yaitu, Hongkong, Singapore, Bangkok, Jepang.
Setelah semua materi telah disampaikan selanjutnya masuk ke sesi tanya jawab diskusi. Pada sesi ini diskusi yang menarik adalah tentang pembangunan jalan tol yang yang mengorbankan hutan hingga kera liar turun ke perkampungan warga. Selain itu mengenai syarat sebuah hutan menjadi taman nasional, isu pembangunan jalan.
Pukul 13.45 WIB usai sudah perjuanganku hari ini untuk menahan kantuk saat materi. Selanjutnya adalah ishoma (istirahat, sholat, makan), sebelum pulang dilakukan foto bersama dan saling bencengkrama. Satu pesan yang dapat dikutip hari ini, Rasulullah bersabda : “Sayangilah makhluk yang ada dibumi, niscaya yang ada dilangit akan menyayangimu”. (Hadits Shahih, Riwayat ath- Thabrani dalam al Mu’jam al-Kabir). Ayo Lestarikan Alam Anak Muda!!

Teks : Tahmida Fatmala (W-701 Pa)
Foto : Prafani Viska (W-696 Nl)


Postingan populer dari blog ini

pengenalan diving (mari menyelam).

Gunung Slamet, Keparingan Slamet Dumugi Mandhap.

Mahameru, Butiran Pasir Keteguhan