Mengungkap Keindahan Alam di Perut Bumi Indonesia Timur


Semarang – Berkegiatan di alam bebas mungkin merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan. Meskipun, berkegiatan di alam bebas tidak melulu tentang mencari kesenangan dan jalan – jalan semata, seperti yang dilakukan oleh organisasi mahasiswa pecinta alam Universitas Diponegoro ini. Sebagai sebuah usaha dalam mewujudkan visi Universitas Diponegoro untuk menjadi universitas riset yang unggul pada tahun 2020 mendatang, WAPEALA UNDIP, sebagai organisasi pecinta alam tingkat universitas memulai proses dari misinya menjadi mapala (mahasiswa pecinta alam) yang menekankan kegiatannya pada penelitian yang hasilnya dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dan masyarakat. Kegiatan penelitian ini dilangsungkan dalam bentuk ekspedisi.

Sebagai langkah awal, WAPEALA memulainya dengan ekspedisi Diponegoro Moluccas Expedition, sebuah ekspedisi berupa penelitian dan penelusuran goa – goa yang belum pernah dieksplorasi sebelumnya. Kegiatan ini berlangsung di wilayah Taman Nasional Manusela, Pulau Seram, Maluku Tengah. Kegiatan ekspedisi ini dilaksanakan pada tanggal 1 September – 26 September 2016, dengan tujuan awal pendataan gua – gua  yang belum terpetakan di Indonesia, pertimbangan ini mengerucut pada lokasi Taman Nasional Manusela yang memiliki kawasan karst dengan sejumlah goa yang belum pernah di eksplorasi dan memiliki potensi besar bagi wisatawan penggiat alam bebas. Mengingat Indonesia sendiri memiliki banyak tempat wisata alam yang berpotensi menjadi lokasi pariwisata kelas dunia layaknya Raja Ampat dan Bali.



WAPEALA dalam kegiatan ini bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Manusela dalam kegiaatan pemetaan goa.  Tidak hanya pemetaan, WAPEALA juga menjalankan berbagai kegiatan lain selama di lapangan antara lain pendataan Biospel atau kehidupan goa. Pendataan dan pengamatan kehidupan sosial, ekonomi dan sosial masyarakat Desa Sawai, desa di sekitar kawasan karst Balai Taman Nasional Manusela.  Selain itu ada penelitian hidrospel, yaitu penelitian mengenai kualitas air yang terdapat didalam goa, yang terbagi menjadi tiga, baik atau dapat dikonsumsi, menengah atau dapat dimanfaatkan namun tidak disarankan untuk diminum, dan kualitas buruk atau tidak dapat  dimanfaatkan. Hasil dari pendataan ini akan dikembalikan sebagai aset data di Balai Taman Nasional Manusela dan instansi pemerintahan setempat. Hasil dari kegiatan ini dapat dimanfaatkan oleh pihak taman nasional, instansi dan masyarakat, tidak hanya dalam bidang pariwisata, namun juga dalam bidang sumber daya dan pemanfaatan lahan.

“Sasaran dari hasil kegiatan kami adalah umum, gak cuma caver atau mapala. Orang yang belum kenal tentang goa dan pariwisata  goa juga bisa paham tentang manajemen sumberdayanya baik alam, manusia dan lingkungannya” jelas Nurul Aenunnisa (21) mahasiswi jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Diponegoro yang menjabat sebagai Humas WAPEALA UNDIP periode 2016.
“tentunya masyarakat jadi lebih tau komponen – komponen dalam goa, apalagi perihal sumber air dan struktural lahan, karena struktural lahan dan tanah juga akan mempengaruhi aktivitas di permukaan tanah seperti pertanian, pemanfaatan lahan, apalagi pembangunan di permukaan karst yang masih perlu di evaluasi” tambahnya.
Persiapan Fisik dan Mental Yang Matang, Tidak Asal Berangkat
Kegiatan alam bebas akan sangat menguras banyak energi, ditambah lagi medan yang berat dan memiliki resiko kecelakaan yang tinggi, membuat kita yang ingin melakukan kegiatan outdoor seperti mendaki gunung, menelusuri gua, memanjat tebing, rafting dan menyelam membutuhkan tidak hanya sekedar nyali, namun fisik yang prima dan keterampilan yang mumpuni. Dibutuhkan latihan yang cukup dan menjaga kondisi tubuh agar benar – benar siap seperti yang dilakukan oleh Mahasiswa – mahasiswa UNDIP yang tergabung dalam tim Diponegoro Moluccas Expedition (DME) yang terdiri dari Heharero Tesar A, Ani Febriastati, Annisa Chairany Mutia tegas, dan Nur Anisa.

Tim DME menjalani serangkaian pendidikan latihan dan simulasi demi menambah jam terbang dan mengasah keterampilan sebelum benar – benar siap melaksanakan ekspedisi yang berdurasi hampir satu bulan.
“Kami melaksanakan seleksi dan diklat selama hampir empat bulan terhitung dari proses seleksi pada bulan Mei 2016, kami juga melaksanakan tiga kali simulasi lapangan, kami memulai simulasi soft di Grobogan, Purwodadi selama sepuluh hari, lalu simulasi Medium di areal karst Gunung Kidul, Yogyakarta dan simulasi hard di daerah Gombong, Banyumas” ujar Aan, salah satu anggota tim DME.

“Selama diklat itu kami juga menerapkan cara – cara penelusuran goa baik tipe gua vertikal maupun horizontal, salah satu teknik paling sering kami terapkan yaitu tehnik  Single Rope Technique atau SRT tehnik ini kami gunakan karena sebagian besar gua yang kami telusuri adalah gua vertikal, tehnik SRT sendiri adalah tehnik untuk menuruni gua menggunakan tali Carmantel, dengan satu set alat pengamanan pada Harness yang kami kenakan” tambahnya.
Aan dan kawan – kawan sendiri merasa bangga karena setelah melewati jadwal latihan yang cukup ketat dan disiplin itu membuat ia dan kawan – kawannya berhasil membawa nama Universitas Diponegoro dan WAPEALA untuk melaksanakan ekspedisi yang hasilnya dapat bermanfaat untuk masyarakat.
Seminar Nasional Speleotourism dan Seminar Hasil Diponegoro Moluccas Expedition sebagai Upaya Pengembangan Pengetahuan Pariwisata Goa
Kurang lebih 150 peserta  pada hari Sabtu, 15 Oktober 2015 memenuhi di Auditorium Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro, Semarang dalam partisipasi kegiatan Seminar Nasional Speleotourism dan Seminar Hasil Diponegoro Moluccas Expedition  yang di selenggarakan oleh Mahasiswa Pecinta Alam (WAPEALA) Universitas Diponegoro. Seminar Nasional Speleotourism merupakan seminar yang bertujuan untuk menginformasikan dan Sharing Pengembangan Pengetahuan Pariwisata Goa. Dan Seminar Hasil Diponegoro Moluccas Expedition (DME) merupakan akuntabilitas atlit DME di kegitan Diponegoro Moluccas Expedition yang telah dilaksanakan pada tanggal 1 September – 26 September 2016 di Balai Taman Nasional Manusela (TNM), Pulau Seram, Maluku Tengah, cakupannya meliputi penelitian di bidang caving (goa). Dua kegiatan tersebut di menjadi kesatuan dalam kegiatan Seminar Nasional Speleotourism.
“seminar ini bertujuan untuk memaparkan hasil – hasil dari expedisi kami, karena kami menyadari bahwa keindahan goa dapat menjadi salah satu potensi wisata di Indonesia yang belum terlalu dieksplorasi dan wajib kita lestarikan” ujar Heharero Tesar sebagai salah satu atlet DME.
“selain itu hasil dari penelitian kami akan berguna bagi masyarakat, dalam hal ini adalah pemanfaatan wilayah karst, karena walaupun areal karst akan sangat dibutuhkan sebagai areal tambang semen, namun karst juga menjadi potensi wisata sekaligus area sumber air bagi masyarakat,  oleh karena itu dengan mensosialisasikan hasil penelitian kami melalui seminar ini agar yang kami harapkan masyarakat dapat memanfaatkan sumber daya karst secara efisien, tanpa harus mengeksploitasinya” tambahnya.
Muatan dalam kegiatan Seminar Nasional Speleotourim terdiri dari pemrasaran pertama perihal “Pendataan Goa - Speleology and Tourism” oleh Anggota Pusat Penelitian Biologi LIPI dan President of Indonesian Speleological Society, Dr. Cahyo Rahmadi. Pemrasaran ke-2 perihal “ Pengembangan Speleo – Tourism melalui Pendekatan Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan” oleh Kementrian Pariwisata sekaligus Dosen di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung yaitu Dr. Hery Sigit Cahyadi., A.Par., M.Par. dan pemrasaran ke-3 perihal “Akuntabilitass Kegiatan Diponegoro Moluccas Expedition yang di paparkan oleh Ketua Atlit DME, Anggota WAPEALA UNDIP yaitu Heharero Tesar Ashidiq dan dipengujung acara dipersembahkan pameran foto dalam proses kegiatan Pra dan Pelaksanaan kegiatan DME yang terdiri dari kegiatan Soft Simulation di Kawasan Karst Kiskendo, Kendal., Medium Simulation Kawasan Karst Geopark Gunung Sewu, Gunung Kidul, DIY.., Hard Simulation di Kawasan Karst Gombong, Purwodadi dan Pelaksanaan kegiatan DME di Kawasan Karst Balai Taman Nasional Manusela, Pulau Seram, Maluku Tengah. (W 643 Grr)

Postingan populer dari blog ini

pengenalan diving (mari menyelam).

Gunung Slamet, Keparingan Slamet Dumugi Mandhap.

Mahameru, Butiran Pasir Keteguhan