MENYULUSURI KEINDAHAN DI KEGELAPAN





Calon atlit Diponegoro Mollucas Expedition pada tanggal 11- 14 Juli melakukan kegiatan simulasi di daerah kawasan Karst Kendeng, Purwodadi. Dengan memberangkatkan 9 atlit yang di dampingi oleh 2 instruktur dan 3 official. Kegiatan yang dilakukan mulai dari pemetaan gua ( mapping ) , hidrologi, biospel, photography, rigging, dan mempelajari SOSEKBUD ( Sosial Ekonomi Budaya ) yang ada disekitar kawasan Karst Kendeng.

Caving adalah olah raga rekreasi menjelajahi gua. Tantangan dari olah raga ini tergantung dari gua yang dikunjungi, tapi seringkali termasuk negosiasi lubang, kelebaran, dan air. Pemanjatan atau perangkakan sering dilakukan dan tali juga diguanakan di banyak tempat. Caving kadangkala dilakukan hanya untuk kenikmatan melakukan aktivitas tersebut atau untuk latihan fisik, tetap awal penjelajahan, atau ilmu fisik dan biologi juga memegang peranan penting. Sistem gua yang belum dijelajahi terdiri dari beberapa daerah di Bumi dan banyak usaha dilakukan untuk mencari dan menjelajahi mereka. Di wilayah yang telah dijelajahi (seperti banyak negara dunia pertama), kebanyakan gua telah dijelajahi, dan menemukan gua baru seringkali memerlukan penggalian gua atau penyelaman gua

Peralatan dalam penelusuran gua sangat penting bagi keamanan penelusur itu sendiri, karena dengan peralatan itulah penelusuran dapat dilakukan dengan baik. peralatan itu adalah :

1. Lampu, syaratnya harus bisa ditempelkan pada helm. Helm, diusahakan yang tidak mudah pecah. Jika ternyata pecah tidak akan melukai kepala.

2. Coverall atau Wearkpack, dengan warna yang menyolok.

3. Sarung tangan, sebaiknya dari kulit yang lemas atau karet.

4. Sepatu, usahakan yang tinggi sehingga dapat melindungi dari gigitan binatang berbisa atau terkilirnya pergelangan kaki.

5. Sumber cahaya cadangan, bisa berupa lilin senter korek api.

6. Peluit, sebagai alat komunikasi darurat.

Perlengkapan tersebut hanya dapat dipergunakan untuk gua Horisontal (datar), atau gua yang agak rumit hingga memerlukan keterampilan untuk mendaki dan menuruni secara bebas tanpa peralatan (Free Climbing).

Untuk melakukan eksplorasi gua vertikal atau sumuran, tentunya peralatan tersebut diatas tidak memadai. Untuk keperluan tersebut dikenal suatu cara yang disebut SRT (Single Rope Technique) atau teknik menaiki dan menuruni tali tunggal, maka kita harus melengkapi dengan alat lainnya yaitu :

1. Chest Harnes

2. Sit Harnes

3. Cow’s Tails atau tali pengaman

4. Maillon Rapide, penyambung harnes dan tempat mengait alat.

5. Ascender

6. Decender.

7. Webbing atautali pita

Menelusuri gua dapat dikerjakan untuk olah raga maupun untuk tujuan ilmiah. Namun kedua kategori penelusur gua wajib menjunjung tinggi etika dan kewajiban kegiatan penelusur gua ini agar lingkungan tidak rusak, agar para penelusur gua ini agar lingkungan tidak rusak, agar para penelusur sadar akan bahaya-bahaya kegiatan ini dan mampu mencegah terjadinya musibah dan agar si penelusur sadar akan kewajibannya terhadap sesama penelusur dan masyarakat disekitar lokasi gua-gua. Kemahiran teknik saja tidak cukup untuk menganggap dirinya mampu dan pantas melakukan kegiatan penelusuran gua. Seorang pemula atau yang sudah berpengalaman sekalipun harus memenuhi etika dan kewajiban penelusuran gua.
Sejak semula harus disadari bahwa seorang penelusur gua dapat merusak gua,
karena membawa kuman, jamur, dan virus asing ke dalam gua yang lingkungannya masih murni, tidak tercemar. Penelusuran gua akan merusak gua apabila meninggalkan kotoran berupa sampah, sisa karbit, puntung rokok, sisa makanan, batu baterai mati, kantong plastik, botol/kaleng minuman dan makanan dalam gua. Membuang benda-benda tersebut di atas adalah larangan mutlak juga dilarang corat-coret gua dengan benda apapun juga.

Karenanya ikutilah Motto :

“jangan mengambil sesuatu……… kecuali mengambil potret”

“jangan meninggalkan sesuatu ….. kecuali meninggalkan jejak”

“jangan membunuh sesuatu ……… kecuali membunuh waktu”

Calon atlit sampai di tempat kawasan Karst Kendeng pukul 23.00 yang seharusnya dijadwalkan sampai pukul 21.00. Terjadi sedikit kendala dikarenakan tersesat. Sesampainya disana para calon atlit langsung melakukan checklist alat yang mereka bawa dan menyiapkan alat tersebut untuk kegiatan keesokan harinya.

Pada hari pertama, calon atlit menyusuri Gua Gajah dengan melakukan kegiatan pemetaan gua ( mapping ), dan biospel. Pemetaan gua merupakan hal yang penting karena dapat digunakan untuk menggambarkan bentuk, dan keadaan gua tersebut seperti apa. Biospel sendiri adalah suatu kegiatan mempelajari dan mengamati makhluk hidup apa saja yang ada di dalam gua terebut. Seperti contohnya yang di temukan di lapangan, calon atlit melihat Kalacemati atau Laba - laba. Kalacemati ini boleh dibilang monster di dalam gelap karena mereka sangat menyukai tempat-tempat yang gelap dan lembab. Mereka berburu dan aktif di malam hari. Ketika siang hari, mereka banyak bersembunyi di celah batuan. Kalacemati ini memiliki perbedaan dengan laba - laba pada umumnya, yang membedakannya Kalacemati memiliki sepasang cambuk yang sebenarnya merupakan modifikasi sepasang kaki terdepan. Kalacemati berjalan hanya menggunakan tiga pasang kaki. Sepasang kaki terdepan inilah yang berfungsi menjadi alat peraba karena memiliki rambut-rambut halus. Sayangnya calon atlit ini tidak dapat menyusuri gua secara keseluruhan karena terpaut oleh waktu. Pukul 15.00 para Atlit sudah selesai melakukan kegiatan dan beristirahat sejenak sebelum akhirnya benar - benar keluar dari dalam gua.

Setiap selesai melakukan kegiatan, hal yang dilakukan adalah evaluasi dan checklist alat. Adanya evaluasi usai kegiatan, untuk mengetahui kekurangan yang terjadi di lapangan tadi agar kedepanya tidak terjadi lagi. Selain itu checklist alat pun penting karena, untuk memastikan alat yang sudah di gunakan tadi masih lengkap jumlahnya dan tidak ada cacat atupun rusak. Setelah selesai calon atlit baru bisa beristirahat untuk mempersiapkan aktivitas di keesokan harinya

Pada hari kedua, mereka menyusuri gua yang berbeda yaitu Gua kembang. ua Kembang merupakan gua vertikal dengan kedalaman 30 meter dan diameter 4 meter. Gua ini berair dan berlumpur, sungai di Gua Kembang terhubung oleh Gua Urang. Gua yang memiliki dua lorong. Kegiatan yang dilakukan bertambah banyak dibandingkan dengan gua yang sebelumnya mulai dari photography, rigging, biospel, dan hidrologi. Kegiatan yang pertama mereka lakukan ialah rigging. Rigging adalah teknik pemasangan lintasan tali gua-gua vertical dengan syarat-syarat tertentu dengan tujuan menghindari gesekan antara tali dengan dinding gua. Ke sembilan calon atlit tersebut mempraktekan bagaimana rigging yang benar. Mungkin ini masih awal bagi calon atlit jadi memakan waktu yang cukup lama, dan mereka selesai melakukan rigging pukul 11.00. Masih ada waktu sekitar satu jam lagi menuju ISOMA (Istirahat, Shalat, Makan) calon atlit melakukan survey ke Gua Gapek untuk kegiatan mereka keesokan harinya. Selesai survey dan ISOMA, calon atlit melanjutkan kegiatan susur gua kembali. Pukul 13.00 selesai ISOMA calon atlit melakukan SRT ( Single Ropte Technique) untuk turun ke dasar gua, dan memulai kegiatan susur Gua Kembang. Gua Kembang yang terkenal dengan keadaan ornamen - ornamen yang ada di dalamnya masih terjaga, mungkin karena bentuk guanya yang vertikal jadi tidak sembarang orang bisa turun. Tidak ada tangan - tangan nakal yang merusaknya. Ornamen yang terdapat di dalam Gua Kembang seperti stalagtit, stalagmit, canopy, gourdam, helektit, dan calcit floor. Sifat dari ornamen gua yang mudah rusak seperti karang pada laut, apabila kita tidak sengaja ataupun sengaja menyentuh ornamen tersebut secara tidak langsung kita membunuh. Selain dengan keindahan ornamen yang ada, makhluk hidup yang tinggal di dalam gua tersebut juga beraneka ragam seperti : jangkrik gua, katak, ular, kepiting sungai, kalajengking, semut, dan serangga gua. Sayangnya lagi calon atlit tidak dapat menyusuri gua sampai keluar di Gua Urang. Waktu sudah menunjukan pukul 15.00 dan calon atlit masih berada di antara gua,sedang perjalanan dari mulut Gua Kembang sampai Gua Urang membutuhkan waktu tiga jam. Akhirnya calon atlit memutuskan untuk keluar sebelum hari berubah menjadi gelap. Seperti biasa kegiatan rutin yang dilakukan checklist alat setelah melakukan kegiatan, dan evaluasi pada malam harinya.

Hari ketiga, calon atlit melakukan penyusuran ke gua yang ke tiga, yaitu Gua Gapek. Gua Gapek termasuk Gua vertical dengan kedalaman ±40m, berair dan berlumpur serta disekitar entrance (mulut gua) banyak ditumbuhi pohon jati dan bambu.Kegiatan yang dilakukan di Gua Gapek ini rigging dan mempelajari SOSEKBUD. Jadi sistemnya calon atlit di bagi kedalam dua tim. Tim pertama melakukan rigging lalu SOSEKBUD, sedangkan tim kedua melakukan SOSEKBUD lau rigging. Tim pertama melakukan rigging dahulu, dan melakukan SRT untuk turun tapi tidak mencapai dasar hanya setengah jalan lalu naik lagi. Sedangkan tim kedua melakukan wawancara kepada warga sekita mengenai gua tersebut dimanfaatkan untuk apa, apa warga yang ada disini tahu keberadaan gua ini, mata pencaharian yang dominan disana, dan pendidikan yang mereka pernah lalui. Dari hasil wawancara yang dilakukan Gua yang terdapat disan dijadikan mata pencaharian bagi warga sekitar, karena disana merupakan kawasan karst banyak warga sekitarnya merantau ke Kalimatan untuk mengembangkan hasil tambang mereka. Selain itu digunakan juga sebagai sumber pangan. Air yang berada di Gua Kembang masih jernih dan dapat dikonsumsi. Binatang seperti kelelawar pun tidak luput dari incaran warga sekitar. Soal pendidika yang ditempuh warga sekitar,apabila dia dapat sekolah ke jenjang yang tinggi biasanya jarang kembali ke kampung halamannya lagi. Setelah selesai kegiatan pertama kedua tim langsung bertukar posisi kegiatan. Kegiatan ini berakhir pukul 15.00. Setelah selesai kegiatan para altit, instruktur, dan official bersiap - siap untuk kembali ke Semarang. Mereka meninggalkan tempat pukul 18.00 dan tiba di Semarang pukul 21.00.



Menurut salah satu calon atlit, keadaan Gua yang ada di sana masih bagus dan terawat, dan oranamennya masih hidup, tetapi mungkin agak kurang di Gua Gajah karena ada tangan - tangan jahil yang menyentuhnya. Banyak sekali pembelajaran yang di dapat dari kegiatan ini, mulai dari hal yang sederhana sampai hal yang membutuhkan tenaga dan pikiran yang cukup besar. Alam yang indah ini sebaiknya kita jaga dan lestarikan demi berlangsungnya kehidupan dari setiap makhluk hidup.


Sumber : (W-682 Nl)

Postingan populer dari blog ini

pengenalan diving (mari menyelam).

Gunung Slamet, Keparingan Slamet Dumugi Mandhap.

Mahameru, Butiran Pasir Keteguhan