Press Release Kronologis Musibah yang Menimpa TIM EKSPEDISI “APSARA ADHIDARWA” WAPEALA Universitas Diponegoro Semarang di Sungai Cikandang, Garut Jawa Barat



PRESS RELEASE KRONOLOGIS MUSIBAH YANG MENIMPA TIM EKSPEDISI “APSARA ADHIDARWA”. MAHASISWA PENCINTA ALAM (WAPEALA) UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG- JAWA TENGAH DI SUNGAI CIKANDANG, GARUT JAWA BARAT

WAPEALA UNDIP adalah organisasi pencinta alam tingkat universitas. Di mana garis komando setiap kegiatan eksternal maupun internal di bawah naungan Pembantu Rektor III. WAPEALA berkecimpung di dunia kepetualangan dan kepencintaalaman sejak tahun 1976.
Tim pengarungan berjumlah 10 orang dari WAPEALA UNDIP yaitu Wisnu Bekti,Nurul Aenunisa, Alm. Anggraini Miftakhul Rizki, Angkasa, Gresi Amarita, Dian Syafitri, Firas Dalil, Septian Dwi, Ahsani Taqwim,Faran Afnan dan satu orang dari MAPALA STTG (SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI GARUT) yaitu Kang Ipe sebagai tenaga bantuan operasional.
Apsara Adhidharwa
Meluncur di atas air. Adalah kegiatan ekspedisi pengembaraan bagi calon anggota WAPEALA. Di mana pada setiap kegiatan ekspedisi kami selalu menekankan proses. Pra kegiatan ekspedisi Cikandang didahului dengan latihan rutin arus tenang di sungai Banjirkanal, simulasi di sungai Elo 2 periode, Sungai Serayu. Tak hanya teknik pengarungan, tim juga dibekali kemampuan self rescue dan manajerial ekspedisi. 

Perizinan Kegiatan
Pada setiap kegiatan Ekspedisi mulai dari pra dan pasca, perizinan adalah hal yang selalu diutamakan. Garis koordinasi berasal dari KETUA WAPEALA- PEMBINA ORGANISASI- PEMBANTU REKTOR III (Bid. Kemahasiswaan). Dengan 3 tanda tangan perizinan dari universitas, tim baru bisa bergerak untuk melaksanakan kegiatan ekspedisi. Begitu halnya dengan Ekspedisi “Apsara Adhidharwa”, yang telah melakukan survey perizinan terlebih dahulu sebelumnya. Setelah melaksanakan latihan dan simulasi, surat rekomendasi pengarungan dari FEDERASI ARUNG JERAM INDONESIA (FAJI) didapatkan. Surat tersebut merupakan bekal bagi tim untuk mendapat izin dari Camat Pakenjeng, KORAMIL Pakenjeng, Kapolsek Pakenjeng. Ketiganya adalah institusi yang menaungi perizinan kegiatan wilayah  sungai Cikandang. Perijinanpun telah terpenuhi seluruhnya sebelum Tim melakukan pengarungan. Jadi dapat kami tegaskan bahwa kegiatan arung jeram “Apsara Adhidharwa” WAPEALA RESMI MENDAPAT SURAT JALAN SEBAGAI PERIZINAN KEGIATAN dari FAJI (FEDERASI ARUNG JERAM INDONESIA).

Kronologis Kejadian
Tim melakukan pengarungan hari pertama pada tanggal 14 April 2014 pada pukul 10.00 pagi dengan dibagi menjadi 2 perahu (merah & kuning). Menggunakan teknik pengarungan River Running System atau pengarungan dengan sesuai standar yaitu 2 perahu. Perahu (kuning) paling depan sebagai tim pembuka jalur (lead boat), diikuti perahu (merah) di belakang dengan asumsi jika perahu depan mengalami masalah, perahu (merah) menyelamatkan. Saat memulai pengarungan kondisi cuaca kondusif (cerah). Pengarungan berlangsung lancar dan terkendali sampai pada pukul 12.00 WIB. Tim istirahat sampai pukul 13.00 WIB. Melihat debit sungai dirasa masih aman, tim kembali melanjutkan pengarungan sambil mencari lokasi camp terdekat. Tim terus mencari lokasi camp yang aman karena daerah yang dilalui masih berupa tebing dan persawahan. Pukul 14.00 WIB lebih langit di hulu gelap, tim segera berpacu dengan waktu untuk segera mencari tempat camp yang layak. Perahu depan (kuning) sempat mengalami terjebak 2 kali di bebatuan namun berhasil lolos. Pada kondisi yang terjebak yang ke-3 kali, perahu depan (kuning) sempat mengalami kesulitan untuk lolos. Banjir bandang tiba-tiba datang dan tim di masing-masing perahu mulai terhempas dan terpisah dari tempat semula. Setelah renang jeram, beberapa anggota tim berhasil menepi ke pinggir sungai dan delta. Pada kondisi ini almarhumah sempat terlihat menepi dan memegang pohon, namun menurut saksi Dian, ia terhempas kembali dan hanyut lagi dan ditemukan sore harinya pada pukul 4 sore dalam keadaan telah tiada.
Beberapa anggota tim keesokan harinya dilarikan warga ke PUSKESMAS untuk mendapat pelayanan gawat darurat. Setelah terpisah beberapa jam, pada hari selasa pagi seluruh tim dipertemukan di basecamp STTG. Jenazah almarhumah Mifta langsung dibawa ke Bekasi pada jam 08.30 untuk dikebumikan.

Seperti yang telah kami jelaskan, kejadian ini murni BENCANA yang di luar prediksi analisa kami. Menurut warga kejadian banjir bandang ini merupakan yang terbesar hingga menenggelamkan persawahan dan merobohkan jembatan yang baru dibangun. 

Demikian kronologis singkat musibah banjir bandang yang menimpa tim arung jeram WAPEALA Undip. Demikian press release ini diterbitkan untuk meluruskan berita yang selama ini masih bersifat  simpang siur. Semoga berita musibah semacam ini tidak lagi menjadi sasaran empuk pencari berita yang mengedepankan kecepatan daripada ketepatan berita. Semoga profesionalisme jurnalis, aktualitas dan faktualitas berita tetap menjaga etika media massa. Sehingga tidak ada lagi pihak-pihak yang merasa dirugikan. Karena kehilangan saudara tercinta kami Anggraini Miftakhul Rizki  merupakan pukulan berat kami keluarga besar WAPEALA UNDIP.
Turut berbela sungkawa dan mohon maaf sebesar-besarnya kepada keluarga Almarhumah. Juga kami ucapkan rasa terimakasih kepada warga desa daerah aliran sungai Cikandang dan seluruh potensi SAR baik saudara mapala maupun  institusi yang telah banyak membantu. Semoga amal ibadah almarhumah diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa. Amien

Semarang, 18 April 2014

Ketua Umum WAPEALA UNDIP,
Irwan Hidayatullah

Postingan populer dari blog ini

pengenalan diving (mari menyelam).

Gunung Slamet, Keparingan Slamet Dumugi Mandhap.

Mahameru, Butiran Pasir Keteguhan