Kami Raja Tebing Sumbing Gunung Kelud



Tanggal 7 September 2013, Mahasiswa Pecinta Alam (Wapeala) Universitas Diponegoro melaksanakan Dikjut (Pendidikan Lanjutan) yaitu “Ekspedisi Pancawarna of Java”. Tim Rock Climbing yang terdiri dari Moh Faran Afnan W 642 GRR (Perikanan), Dwi Kusmawardani W 645 GRR (Fisip), dan Tri Kuncoro W 637 TT (Tekhnik Perkapalan) melaksanakan panjat tebing dan pendataan di Tebing Sumbing Gunung Kelud Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Tebing Sumbing memiliki ketinggian kurang lebih 200 meter.
Tebing Sumbing Gunung Kelud

Hari pertama, Sabtu pukul 01.00 WIB dini hari tim RC berangkat dari stasiun poncol ke stasiun wlingi, Kota Kediri. Selanjutnya dari stasiun wlingi dijemput oleh Anggota Luar Biasa atau ALB yang merupakan anggota wapeala yang telah lulus dari Undip. Kemudian kita beristirahat disana sambil mengurus  surat perijinan. Hari kedua, minggu pagi pukul 07.00 WIB tim RC berangkat menuju Tebing Sumbing. Siang hari tibalah di tebing yang kemudian berlanjut untuk memanjat tebing sampai di teras pertama atau pitch 1. Kami bermalam di atas tebing (hanging bivak). Pemandangan malam hari di atas tebing sangat indah, lampu lampu dari tempat wisata menuju gardu pandang pun semarak terlihat. Angin yang sepoi menambah suasana malam itu menjadi semakin syahdu, menenangkan kami sebelum bertempur keesokan harinya. Hari ketiga tim RC melanjutkan pemanjatan dari pitch 1 ke top. Walaupun panas, dengan semangat tim rc memanjat tebing sumbing. Pukul 15.00 WIB tim RC sampai di top tebing sumbing.
Pemanjatan ke pitch 1
Tim RC berada di TOP Tebing Sumbing
Pemandangan dari puncak tebing terlihat sangat indah. Disana tampak anak Gunung Kelud. Burung elang jawa yang beterbangan diatas langit Tebing Sumbing seakan memberikan ucapan selamat datang kepada kami. Tidak lama berada di puncak tebing, tim RC melanjutkan aksinya dengan menuruni tebing curam itu. Turun tebing atau yang sering disebut dengan Rapling ini membutuhkan peralatan keselamatan yang cukup.
Saat Rapling
Selain itu, butuh koordinasi kaki dan tangan yang baik untuk menjaga keseimbagan badan. Saat itu, kami masih berada dalam kondisi kesehatan yang cukup fit meski setengahnya sudah terkuras pada saat memanjat tebing. Kami terpaksa bermalam di pitch 1 lagi karena ternyata hari sudah larut malam. Hari keempat paginya barulah kami memutuskan untuk turun tebing. Selanjutnya kami mempersiapkan peralatan packing dan kembali untuk melanjutkan pendataan di sekitar tebing. Kami mewawancarai beberapa tokoh penting di sekitar tebing, seperti penjaga tebing sumbing dan salah seorang pengelola. Setelah mendapatkan beberapa data, kami pulang menuju Wlingi untuk beristirahat. Hari kelima dari Stasiun Wlingi menuju Kediri untuk melakukan pendataan lagi ke dinas pariwisata Kediri. Setelah menuju dinas pariwisata kami melanjutkan untuk kembali ke Semarang.  Sesampainya di Semarag, tempat pertama yang kami tuju adalah sekretariat Wapeala. Pukul  23.00 WIB tim RC sampai di PKM Joglo Undip Pleburan, Jl. Imam Bardjo, SH No. 2 Semarang. Lima hari yang penuh peluh, namun menggugah semangat untuk selalu bersahabat dengan alam. Sang Pencipta sepertinya sudah menjadikan kami dengan alam ini berjodoh selamanya. Dari tebing ke tebing kami mencoba menyalami, hingga tebing terjal yang mengokohkan puncak sumbing ini pun telah mampu kami lalui. Dan semakin terjal tebing yang ada dihadapan nanti, akan semakin kuat pula karakter kami terbentuk, semakin memuncak semangat kami lanjutkan.
Anak Gunung Kelud (Kubah Lava)

Postingan populer dari blog ini

pengenalan diving (mari menyelam).

Gunung Slamet, Keparingan Slamet Dumugi Mandhap.

Mahameru, Butiran Pasir Keteguhan