Berkunjung Sesaat ke Surga di Ujung Jawa

Dalam rangka pelaksanaan Dikjut (Pendidikan Lanjut) lapis XXIX, 4 anggota Divisi Gunung Hutan Wapeala (Mahasiswa Pecinta Alam) Undip yaitu Yanuar Yoga Anggoro (W-647 Grr), Dini Dewi Purnama Sari (W-648 Grr), Moh. Doni Akbar (W-632 Tt) dan Syarifudin Ahmad (W-634 Tt), mengadakan pendakian di 2 gunung di bagian timur pulau Jawa pada tanggal 26 Agustus- 1 September 2013. Pendakian pertama yang diiringi plot jalur dan memiliki target puncak, dilakukan di Gunung Raung, Bondowoso. Sedangkan gunung kedua yang menjadi tujuan mereka adalah Gunung Ijen yang letaknya tak jauh dari Gunung raung. Pendakian di Ijen sendiri lebih ditargetkan pada pendokumentasian penambang belerang dan kawah Ijen. Karena memang Gunung di perbatasan Bondowoso-Banyuwangi ini terkenal akan hasil belerang dan keindahan kawahnya.
Pendakian gunung Raung dilakukan melalui jalur Sumber Wringin. Dengan semangat yang tak pernah padam, keempatnya meniti pos demi pos sepanjang jalur pendakian. Kondisi Gunung Raung yang hampir tak dapat ditemukan sumber air, sama sekali tidak menghalangi mereka untuk tinggal sementara di dalamnya demi menggapai puncak untuk menyejukan mata dengan menikmati indahnya kaldera.
Pendakian hari pertama dimulai dari pondok motor dan mengantarkan mereka pada sebuah dataran sempit sebelum pondok demit dan mereka pun bermalam di sana. Dinginnya malam terbayar oleh gemerlapnya hamparan bintang di langit hitam yang seakan menyambut pendaki yang tak sungkan menyambangi gunung dengan 2 puncak ini. Pada pendakian di hari berikutnya,mereka melalui pondok Sumur,Tonyok, Demit, Mayit dan Angin. Hingga akhirnya memewati batas vegetasi yang menyuguhkan medan berbatu nan terjal yang harus ditempuh dengan hati-hati. Bukan pendaki sejati rasanya jika tidak dapat melalui medan ini. Begitupun bagi Yoga, Dini, Doni dan Syarif, keempatnya tiba di puncak dan menerima suguhan terindah Gunung Raung berupa kaldera yang luas dan terletak jauh di dalam sana.
Berbeda halnya dengan Gunung Raung, pendakian di Gunung Ijen memiliki cerita tersendiri. Tidak seperti pendakian biasa, mereka melewati jalur pendakian Ijen bersama Bapak Agus, salah satu penambang belerang yang konon kerap muncul di televisi dan terkenal di kalangan wisatawan mancanegara. Bapak berumur 60-an ini begitu baik hati dan ramah dalam menemani mereka menelusuri  jalanan yang menanjak hingga turun menuju tempat penambangan belerang yang diselimuti asap belarang yang cukup menyesakan. Beliau pun dengan senang hati bercengkarama dengan keempat pecinta alam tersebut di kediamannya di pos penginapan penambang belerang.
Sekitar pukul 02.00 dini hari, mereka mendatangi Pak Agus di pos penginapan lalu berjalan beriringan dengannya menuju tempat penambangan. Mereka terkesan dengan bapak bercucu  5 ini yang tak pernah menyerah. Setiap hari memanggul belerang berbobot 50-60 kg dengan ditemani udara pagi yang dinginnnya menusuk kulit. Menurut penuturan beliau, saat masih muda ia pernah memanggul hingga 110 kg. Sungguh tangguh memang penambang belarang di sana, mengangkut beban sambil manapaki jalanan menanjak khas permukaan gunung.
Selama perjalanan, mereka harus antri berjalanan karena padatnya arus pendakian saat itu. Ada penambang belerang dan juga wisatawan yang kabarnya tak pernah sepi memadati kawah Ijen setiap minggunya. Setelah 2 jam perjalanan, mereka tiba di tempat penambangan. Baru saja tiba, mereka disambut dengan kobaran “Blue Fire” di tengah sana. Blue fire sendiri merupakan kreasi alam berupa api berwarna biru yang hanya ada dua di dunia yaitu di benua Amerika dan di Indonesia.  Fenomena langka ini selalu menjadi daya tarik wisatawan meskipun mereka harus bersinggungan dengan asap belerang.
Menjelang matahari terbit, danau berwarna biru kehijauan perlahan-lahan mulai terlihat di sekitar penambangan belerang. Keelokannya seakan menahan wisatawan untuk tidak cepat-cepat turun  karena kawah Ijen masih memiliki segudang keindahan yang ingin disuguhkan. Terlihat banyak wisatawan mancanegara  yang berfoto di sekitar danau maupun di sekitar dataran yang di bawahnya terhampar  hutan nan hijau di punggung Gunung Ijen. Adapula yang mencoba berkomunikasi dan berfoto bersama penambang belerang. Terlihat jelas bahwa itu bukan kali pertama bagi para wisatawan mancanegara mengunjungi kawah Ijen karena beberapa diantaranya terlihat akrab dengan penambang. Hingga perjalanan turun keempat peserta Dikjutpun wisatawan tiada hentinya berdatangan.Mengenai makanan, souvenir ataupun informasi tentang kawah Ijen dengan mudah didapatkan di Paltuding, yaitu pos di start pendakian Gunung Ijen.
Pendakian kali ini sangatlah berkesan bagi keempat anggota Wapeala tersebut karena merasa beruntung dapat menjadi salah satu pendaki yang yang berkesempatan mengunjungi “Surga di Ujung Jawa” tersebut. (W-648 Grr)
 
ploting jalur
jalur yang terjal, curam, dan butuh konsentrasi

puncak Gunung Raung 3332 mdpl

                                                                            blue fire

Postingan populer dari blog ini

pengenalan diving (mari menyelam).

Gunung Slamet, Keparingan Slamet Dumugi Mandhap.

Mahameru, Butiran Pasir Keteguhan