Mahameru, Butiran Pasir Keteguhan


                           
                                                                                                         





Disebabkan adanya peristiwa kebakaran yang terjadi di gunung Argopuro menyebabkan Tim official Ekspedisi Kilimanjaro memindah lokasi simulasi tingkat medium ke gunung Semeru. Karena hanya gunung tersebut yang memiliki trek mirip dengan gunung Kilimanjaro, meskipun jalurnya tidak sepanjang gunung Argopuro. Ya, akhirnya setelah dibuat pusing akibat permasalahan ini tim berangkat pada tanggal 25 September 2012 dan sampai ke kota adopsi tercinta Kota Semarang pada tanggal 2 Oktober 2012.

Berikut adalah catatan perjalanan yang berhasil dituangkan di tembok blog ini.

Tim calon atlet yang sudah terseleksi sampai pada kegiatan simulasi adalah Irwan Hidayatullah (W-623-Ck), Ardiyan Triapriyansen (W-626-Ck), Umi Lutfiyah (W-628-Tt), Wahyu Razbaeni (W-632-Tt), Syarifudin Ahmad (W-634-Tt).
Dengan didampingi tim official yaitu Revi Candra P (W-596-Au) dan Gregorius Angga W (W-574-Ctr).


Sebagai bagian kegiatan simulasi “Kilimanjaro Expedition”. Bukan sekedar pendakian biasa namun juga penelitian kualitatif mengenai pengelolaan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Seperti yang sudah kami duga, kedatangan kami disambut baik oleh pihak Taman Nasional, selama penelitian kami tinggal di mess yang terletak di belakang Balai Besar Taman Nasional. Adalah Mas Agus Prabowo, ALB angkatan Panthera Pardus yang menjabat sebagai Kabag TU di Tamnas BTS yang berbaik hati ikut andil melancarkan kegiatan-kegiatan kami selama kami di Malang. Beliau yang sangat sibuk berusaha menyempatkan waktu. Kami  belajar banyak dari pribadi yang menginspirasi dan berdedikasi.




Sebelum meninggalkan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Sermeru


Pondok Peneliti

Pengambilan data kami lanjutkan di resort Taman 
Nasional di Ranupani, base camp pendakian gunung Semeru. Lagi-lagi kami diakomodir dengan baik, kami tinggal di pondok penelitian di pinggir Ranu Regulo. Betapa Tuhan memberi karunia keunikan geografis yang sangat indah kepada Gunung Semeru, adanya ranu, yang berarti danau. Ranu yang kami temui pertama adalah Ranu Pani, dekat dengan lingkungan penduduk dan sering digunakan sebagai area memancing. Lalu Ranu Regulo, tempat kami menginap, Ranu dengan aura yang luar biasa menenangkan.




Kebetulan yang menyenangkan karena kami bertemu dua mahasiswa Pertanian, peneliti dari Universitas Brawijaya yang juga sedang melakukan penelitian ekowisata di Ranu Pani. Mereka telah lebih dulu tinggal di Ranu Pani selama 3 minggu. Bersama penduduk dan berhasil melakukan observasi matang terhadap ekowisata gunung Semeru. Pada dasarnya penelitian kami bisa jadi saling melengkapi, jika kami penelitian berobjek pengelolaan Tamnas, maka mereka lebih kependudukan dan relasi antara adanya Tamnas dan masyarakat yang tinggal di zona kawasan gunung Semeru  (inklaf).



Sempat kami berdiskusi mengenai tindak lanjut penelitian kami yang sama-sama berujung pada evaluasi yang saling berkaitan. Tumbuh harapan kami semoga apa yang kami lakukan di sini bukan hanya sekedar simulasi, namun menjadi manfaat yang berarti.







Mbok Nung
Ada kisah pilu yang mengharukan yang ingin kami ceritakan, Ranu Regulo berada tidak jauh dari pos Ranu Pani, dapat dijangkau dengan berjalan kaki sekitar 10 menit. Tidak jauh bukan? Namun anehnya Ranu ini terkesan sepi pengunjung. Dikisahkan bahwa Ranu Regulo di keramatkan oleh penduduk desa sekitar. Siapapun dilarang keras mandi di Ranu Regulo, jika melanggar aturan ini maka konon akan tenggelam dan meninggal. Entah cerita ini mitos atau kebenaran namun sebagai sesama, yang tertinggal yang bisa kami lakukan sebagai pendatang adalah menghormati kepercayaan mereka. Kami tergugah mengetahui keberadaan Mbok Nung yang tinggal di Ranu Regulo, yang dilakukannya sepanjang hari adalah mencari kayu bakar dan membuat perapian untuk menghangatkan badannya. Siapa Mbok Nung? Menurut informasi yang kami terima, beliau adalah seorang ibu yang kehilangan anaknya akibat tenggelam di Ranu Regulo. Konon sang anak meninggal karena tenggelam di sana, sejak saat itu kejiwaan Mbok Nung sedikit terganggu dan menyebut Ranu Regulo adalah tempat tinggalnya. Senyum dan tawa polosnya menyiratkan duka yang dalam. Jiwanya mungkin telah rapuh, namun ketahanan fisiknya jangan ditanya. Selama kami di sana kami mengalami suhu pagi buta 4 derajat celcius. Ranu Regulo adalah lembahan semeru yang menerima tempaan angin lembah yang rajin mengirimkan suhu ekstrim hampir setiap harinya. Namun bagi Mbok Nung itu bukan apa-apa. Berlapiskan kain jarik dia melindungi tubuhnya, api adalah sahabat terbaiknya.



plot jalur
Kamis pagi 26 September 2012, pendakian di mulai, dengan start dari Ranu Regulo pada pukul 08.05. Memulai perjalanan dengan membuka peta dan berdoa untuk keselamatan pendakian 4 hari yang tentunya harus mencapai target. 5 jam pendakian terasa lambat karena seperti biasa kami berhenti pada setiap pos untuk membuat plot jalur. 5 jam terakhir pendakian yang kami rasakan adalah bosan, awan mendung entah kenapa selalu mengiringi perjalanan kami.



dari sinilah euphoria Ranu Kumbolo dimulai





Tiba-tiba pada pertemuan punggungan yang terakhir awan mendung tersibak, pemandangan curam di bawah kami ternyata adalah lembah dengan edelweis yang menawan. Selanjutnya langit benar-benar menyambut kami di ketinggian 2400 mdpl. Kami kira yang kami hadapi adalah fatamorgana, “ Ranu Kumbolo!” kami berteriak. Euphoria kami serempak. Sensasi gunung api paling epik dimulai, kami berlari, berjingkrak dan hampir lupa diri. “jadi ini yang namanya Ranu Kumbolo?”




Kami terburu untuk segera sampai dan mendirikan tenda, untuk selanjutnya melakukan aktifitas camp. Namun  terdapat kabut tipis berbau yang menghalangi kami menjemput Ranu Kumbolo, kami curiga karena kabut tersebut bergerak lebih dinamis dan berasal dari timur, yaitu dari jalur ayek-ayek. Tidak disangka, telah terjadi kebakaran hutan yang sepertinya belum lama terjadi. Namun sayang sekali, api terlanjur merembet panjang dan berbahaya, kami berusaha kontak dengan Taman Nasional namun tidak bisa. Mulai dari HT, hingga ponsel kami coba untuk terhubung dengan Pos Ranu Pani namun tidak 
bisa. Dengan pandangan lesu kami hanya bisa menyaksikan hutan di atas kami terbakar, api terlanjur membesar dan galak tidak karuan. Beberapa pendaki yang lebih dulu datang rupanya sudah berupaya memadamkan, namun sayang kemalangan yang menimpa hutan Semeru tidak dapat dicegah.







Menghabiskan malam di Ranu Kumbolo membuat kami tiada henti berdecak kagum, pemandangan depan kami serupa pualam hitam, sempat tergelitik untuk meneliti, bakteri apa yang sebenarnya terkandung di dalamnya. Sekeliling Ranu Kumbolo adalah bukit-bukit menjulang lengkung menambah dramatisnya keelokan danau terindah di gunung Semeru. Suhu terekstrim pada bulan agustus yang lalu kabarnya adalah minus 4 derajat celcius.


Larutan emas jingga Ranu Kumbolo
Ada peraturan tidak tertulis di kawasan Ranu ini, bahwa pendaki tidak boleh mencemari Ranu dengan sabun, minyak atau apapun yang menyebabkan Ranu menjadi tercemar. Yang harus dilakukan adalah dengan membuat lubang jika kita ingin membuang sampah makanan atau air sabun lalu menutupnya kembali sebelum meninggalkan tempat.

Pada hari ke-2 pendakian, kami bangun pukul 05.00 dan begitu membuka pintu dum, langit keemasan menyiratkan pemandangan yang maha indahnya. Setelah sholat shubuh, sambil membuat sarapan kami menikmati larutan warna kuning, ungu dan merah, sunrise di Ranu Kumbolo.

Tanjakan Cinta
Pukul 08.00 kami melanjutkan pendakian dengan target pos Kalimati, karena hari itu kami akan melaksanakan aklimatisasi sebagaimana nanti yang akan kami lakukan di Kilimanjaro.

Kami meninggalkan Ranu Kumbolo dan mulai mendaki tanjakan cinta, menurut cerita barang siapa yang mendaki tanjakan tanpa menoleh sambil memikirkan seseorang yang disukai lalu meneriakan namanya di pucak tanjakan niscaya ia akan berjodoh dengannya. Mitos yang satu ini memang sedikit menjengkelkan, mengingat tanjakan ini sangat menanjak dan lumayan membuat ngos-ngosan.



Oro-Oro Ombo
Berikutnya yang kami jumpai setelah melewati tanjakan cinta adalah oro-oro ombo yang berarti rawa yang luas. Jika anda ingin melihat hamparan lavender ungu bermekeran di oro-oro ombo maka datanglah pada bulan maret-aprel-mei. Pada bulan-bulan tersebut padang kering oro-oro ombo akan berubah menjadi padang lavender yang sangat indah. Dan ketika musim hujan maka air akan menggenang dan menjadi rawa sehingga pendaki bisa mengambil jalur di punggungan bukit yang mengelilingi oro-oro ini.




5 km dari Ranu Kumbolo sampailah kami di Jambangan, di mana sang Mahameru mulai menampakan kegagahannya. Kami semakin bersemangat untuk segera sampai di kalimati. Pada ketinggian 2500 mdpl ini kami beristirahat dan membuat plot jalur.


Tidak sampai 30 menit kemudian sampailah kami di Kalimati. Pos tersebut adalah pos terakhir yang dilegalkan untuk didaki. Namun dasar pendaki, kami dan sebagian besar pendaki lain tetap nekat akan melaksanakan target sampai puncak. Dengan ketentuan summit attack  berlangsung dari dini hari dan pendaki harus turun tidak lebih dari jam 7 pagi. Karena dikhawatirkan batuk erupsi Mahameru yang tidak bisa dideteksi akan terjadi, dan biasanya pada pukul 8 pagi ke atas. Tidak hanya erupsi namun juga badai pasir yang sering terjadi dan membawa partikel beracun. Pada tahun 1969 Soe Hok Gie meninggal di Mahameru karena melakukan pendakian pada sore hari karena menghirup gas beracun.

edelweis di Kalimati

Sebelum melaksanakan aklimatisasi leader tim kami yaitu Irwan Hidayatullah terlebih dulu memastikan jalur menuju Arcopodo. Hal ini dikarenakan adanya asap yang mengindikasikan bahwa terdapat kebakarn di jalur. Dan benar saja, beberapa pendaki yang memberi info kepada kami bahwa sebelah kanan jalur arcopodo terjadi kebakaran. Sehingga kami memutuskan melakukan aklimatisasti tanpa carrier dan hanya membawa yang perlu dibawa utamanya P3K.

Aklimatisasi berlangsung lancar, ternyata kebakaran terselamatkan tidak sampai meluas karena terdapat rekahan yang memisahkan jalur pendakian dan area kebakaran. Api belum sepenuhnya padam dan masih menyisakan bahan bakar.

Camp Kalimati
                                     
Summit attack tidak berjalan sesuai rencana karena kami terbangun pukul 00.00 WIB, tidak semestinya jadwal pada jam tersebut harusnya kami sudah mulai pendakian. Namun kami segera bergegas, beberapa kami menyiapkan peralatan yang akan dibawa dan sebagian lagi menyediakan kudapan untuk energi mencapai Mahameru. Akhirnya pada pukul 00.45 kami meninggalkan tempat camp setelah sebelumnya melakukan pemanasan. Walaupun sedikit menahan kantuk kami sangat bersemangat karena tidak sabar segera menjejak puncak tertinggi di Jawa. Dan perlu diketahui bahwa kami adalah pendaki terakhir di kalimati yang berangkat pada dini hari itu.

Setelah 1  jam melewati arcopodo akhirnya kami melewati batas vegetasi. Kami diuntungkan dengan aklimatisasi sebelumnya sehingga kami bisa lebih cepat dari waktu yang ditargetkan. Tidak bermaksud saling mendahului namun kami berusaha mengejar waktu dan tiba di ketinggian 3100 mdpl lebih dulu dari pendaki lain. Dan syukurlah kami berhasil mengejar ketertinggalan.

Di sini kami benar-benar diuji. Bahwa mendaki Mahameru sangat berbeda dengan gunung-gunung yang lainnya. Selain membutuhkan power, endurance, yang diperlukan untuk menapaki Mahameru adalah ketabahan.

Butiran pasir labil dan batu-batunya mengajarkan pada kami akan keteguhan, kemandirian dan kedisiplinan. Kami beruntung hanya telat 45 menit dari waktu yang ditentukan dan kami segera sadar diri untuk tidak bermalas-malasan. Ini persoalan hidup dan mati, dan yang kami lakukan adalah mempertaruhkan nyawa. Jika kami berbuat fatal dan bermalas-malasan maka berani datang ke puncak Mahameru berarti setor nyawa.

Kami tak henti-hentinya saling meneriakan kata semangat, pada hari itu tidak ada yang lebih penting dari seorang sahabat.

Dalam gelap mata kami mencari Mahameru, semakin mendekat dan kami semakin merasa terharu. Gunung Semeru adalah 1 dari beberapa jalinan merah gunung api di Jawa. Berada di sini, kami semakin merasa kecil,  dan teringat karunia ibu pertiwi.  Indonesia yang begini kaya dan luasnya.

Mahameru semakin dekat, di ketinggian 3600 mdpl kami luruh bersama butiran pasir. Melihat ke bawah lalu ke tiang langit. Di situlah kami meletakan asa dan cita-cita. Dalam hati berdoa, semoga ada waktu untuk anak-cucu merasakan sensasi yang sama dan kelak Mahameru tetap menjadi guru mereka.

Setelah mendaki selama 4,5 jam, pukul 05.14 kami sampai di puncak Mahameru. Tepat pada saat matahari keluar dari peraduannya. Dan tidak ada yang lebih indah dari larutan jingga di pagi di tempat yang paling tinggi. Di mana para dewa menjamu kami dengan pemandangan yang maha dahsyatnya. Kami segera melaksanakan shalat shubuh yang tertunda, mencium butiran pasir yang melegenda. Doa di 3676 mdpl, dalam hati kami, Kilimanjaro harus kami jejaki.



Andai saja kami bisa menghentikan waktu, maka kami menghendaki 1 detik saja kenangan di Mahameru untuk kami gunting, kami potong dan simpan, lalu kami bingkai keindahan pagi di puncak para dewa pada pukul 5.14, kami rekam suasana haru menyentuh pasir di tempat paling tinggi di Jawa. 
Namun waktu berevolusi, momen selalu akan purba dan kami hanya bisa melakukan 1 hal, membuat gambar. Melukis cahaya, menangkap birunya hawa dingin dalam foto, dan membuat kenangan epik sepanjang masa.
                                     

1 jam di puncak Mahameru menikmati keberhasilan menaklukan diri, lalu kami segera bergegas kembali turun. Sambil memberi semangat pendaki lain yang masih berjuang menembus batas untuk menjejak sang puncak. Sensasi kali ini tidak boleh membuyarkan konsentrasi kami untuk menemukan arcopodo. Dalam waktu 40 menit kami sampai di batas vegetasi dan segera kembali ke kalimati.


Dengan semangat yang kami bawa dari puncak kami bersegera menyelesaikan target yang  tertinggal untuk diselesaikan. Simulasi ekspedisi kali ini lebih dari yang kami duga, menjadi tangguh tidak semudah yang kami kira. Namun tetap saja, selalu ada waktu untuk memperbaiki diri untuk kami, anda dan semua yang mau belajar dan dekat dengan alam.






Terimakasih sebesar-besarnya kepada seluruh keluarga besar WAPEALA yang tidak bosan-bosannya memberi semangat dan mewujudkan rangkaian kegiatan 'Ekspedisi Kilimanjaro'. Kepada seluruh pimpinan dan jajaran Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang telah mendukung kegiatan pendakian dan penelitian. Tidak lupa kepada EIGER, The Real Adventure Gear yang mendukung kami dengan peralatan adventure yang mumpuni dan sesuai  standar internasional.

                                       




                                        







Yang sedang dan akan terus berjuang..




  


Irwan Hidayatullah (W 623 Cervus kuhlii)
Mahasiswa Oseanografi '10
Lahir di Bekasi, 8 November 1990

"Ambillah resiko tertinggi dan selesaikan dengan cara yang termudah, dan kemudian nikmatilah hidup ini !!"









Ardiyan Triapriyansen (W 626 Cervus kuhlii)
Mahasiswa Oseanografi '10
Lahir di Jakarta, 2 April 1992

"Hidup adalah petualangan dan harus cari tantangan baru ..."




Syarifudin Ahmad (W 634 Tarsius tarsier)
Mahasiswa Teknik Mesin '11
Lahir di Bekasi, 16 Juni 1994

"You don't have to be fantastic hero to do certain things to compete. You can be just an ordinary chap, sufficiently motivated to reach challenging goals"









Umi Lutfiah (W 628 Tarsius tarsier)
Mahasiswa Sastra Indonesia '11
Lahir di Kab. Semarang 23 November 1991

"memento mori, whereever"





Wahyu Razbaeni (W 632 Tarsius tarsier)
Mahasiswa Tekni k Perkapalan '10
Lahir di

"Tiada gading yang tak retak"


Postingan populer dari blog ini

pengenalan diving (mari menyelam).

Gunung Slamet, Keparingan Slamet Dumugi Mandhap.