Gunung Slamet, Keparingan Slamet Dumugi Mandhap.

Perjalanan kami anggota biasa WAPEALA Universitas Diponegoro kali ini adalah simulasi pendakian gunung Kilimanjaro, yaitu di gunung Slamet, 3432 mdpl. Letak gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut berada di irisan kabupaten Pemalang, Brebes, Tegal dan Banyumas. Terdiri dari 7 orang calon atlet yang mengikuti simulasi ini yaitu Ponco Bagio , Efrizon, Irwan Hidayatullah, Ardiyan Triapriyansen, Doni akbar, Syarifudin Ahmad, dan Umi Lutfiah. Dan tim official yaitu Revi Candra, Anggita, Mastur Muammar dan Mohammad Syahrul Kamil.

Kami mengawali perjalanan pada hari sabtu tanggal 13 Juli 2012 melalui jalur Kaliwadas dan melintas di jalur Guci kemudian sampai ke PKM Joglo kembali pada hari kamis 19 Juli 2012. Terdapat kejadian seru yang langka kami alami, pada tanggal 17 juli kedatangan kami di puncak disambut oleh erupsi gunung Slamet. Bergegas, kami langsung mengabadikan momen tersebut, erupsi yang diikuti dengan hujan abu yang tipis yang seakan memberi tahu kami, keberadaannya. Bahkan ketika kami perjalanan turun, rupanya ia masih ingin memperlihatkan diri, erupsi terjadi lagi. Dan yang terakhir kami lihat lebih dahsyat dari yang pertama. Seperti memberi pertanda, hati-hati di perjalanan berikutnya.

Gunung Slamet adalah gunung api yang tergolong masih aktif, terdapat kawah belerang di sana-sini yang menandakan gunung ini masih bergeliat, hadir dan mengalirkan cerita mistis dan magis. Adalah wajar jika kami sebagai pendaki memahami apa yang terjadi dan mencoba selalu mengiyakan nasihat-nasihat yang ada ketika berada di sana. Kami senantiasa memilih menghargai mitos yang ada, tidak ada paksaan untuk percaya. Namun mitos, cerita mistis memang yang paling menjaga.


Dalam rangka simulasi, dalam perjalanan pendakian, calon atlit berusaha mengaplikasikan pengetahuannya akan materi yang sudah diberikan. Target kali ini adalah plot jalur dari jalur Kaliwadas-Guci. Berharap dengan simulasi ke gunung Slamet ini maka para calon atlit akan lebih bersiap, semenjak kami disiapkan oleh tim official dengan diklat yang telah dimulai satu setengah bulan sebelumnya. Menuju Ekspedisi Kilimanjaro,  tidak ada alasan untuk patah semangat. Perjalanan kami belum berakhir dan masih akan terus berlanjut hingga Oktober mendekat. Salam Lestari!


“semestinya kita belajar dengan gunung, pada butiran pasir halusnya kita belajar akan independensi dan keteguhan, dan anda yang berhasil menaklukan diri sendiri, berbuat baik, berjaga dan berdoa untuk alam, anda lah sang pemenang. ”


















Postingan populer dari blog ini

pengenalan diving (mari menyelam).

Mahameru, Butiran Pasir Keteguhan