MERAPI? MANGKAT! (21 – 23 April 2010)


MERAPI? MANGKAT!
(21 – 23 April 2010)

Climbing climbing
To the mountain top
So high so high
In the sky

Itu dia merapinya!
Saat tampak sosok perkasanya,aku yakin rombongan kami telah dekat dengan salah satu gunung berapi paling aktif di dunia itu. Kondisi tikungan dan tanjakan jalan yang semakin ekstrim, membuat tiga motor yang kami tumpangi semakin berjalan lambat. Akhirnya sampai juga di base camp Bara Meru Selo, setelah tiga setengah jam lamanya perjalanan dari PKM Joglo Semarang.  Sekilas, malam di Selo hanya tampak kelam. Namun ketika lebih  cermat diamati,pemandangan yang menakjubkan dengan sekejap dapat terlihat. Ternyata, tempat kami berdiri malam itu diapit oleh dua gunung yang berdiri dengan gagahnya, Merapi dan Merbabu.

Malam pertama, 21 April 2010, dihabiskan untuk bermalam di Joglo 2  New Selo. Bermalam di tempat ini membuat suasana lapangan lebih terasa. Berbeda jika kita hanya menginap di basecamp.

Selamat pagi semua….
Kalau matahari bisa berujar, mungkin dia akan mengatakannya setiap pagi datang.  It’s the time! Taklukan Merapi apapun yang terjadi! Dengan Greg sebagai leader, pukul 8.30 pendakian dimulai. Sementara itu Mas Ipul, Susi, Anggita, Terzi, dan Ginta mengekor di belakang. Walau bersemangat, awal perjalanan dirasa cukup lambat. Ini disebabkan karena Ginta tidak bisa berjalan cepat.

lALU, COBA TEBAK APA YANG TERJADI?

Wuee…k, sarapan ternikmat di lapangan pagi itu keluar semua dari perut besar Ginta. (Ternyata, kalo pengen mabok nggak perlu susah-susah minum alcohol kan?, Karena di gunung saja, kita bisa juga mabok). Ginta pasti makan terlalu kenyang. Terbukti, setelah kejadian itu , kapasitas silinder  Ginta berubah layaknya HONDA 70 cc yang ditukar dengan kapasitas silinder HONDA 125 cc.

Track dari shelter 1 ke shelter 3  berupa tanah menanjak yang tidak begitu ekstrim. Kadang, terbentuk alur magma di tengah-tengah jalur pendakian. Memasuki Pos 1  kondisi track mulai berubah.  Di sana sini  jalur cuma ada hamparan bebatuan, meskipun pepohonan masih banyak terlihat.  Setelah dzuhur, kami ISHOMA cukup lama di pos 2. Puncak Garuda telah terlihat semakin dekat, walau terkadang tertutupi kabut. Cuaca cukup baik waktu itu. Oleh karena itu, kami merasa siap  melanjutkan perjalanan sampai puncak hari ini juga. Belum setengah jam berlalu, hujan mulai turun. Untuk itu kami putuskan  mundur dan mendirikan camp di Pos 2. Belum mulai dome didirikan, hujan sudah terburu-buru membasahi semuanya. Baju kami, dome kami, daypack dan carrier kami, semuanya basah. Sementara menunggu dome yang telah didirikan kering , kami berteduh, memasak dan membuat perapian di gua kecil tak jauh dari dome. Belum juga malam tiba, tapi 3 orang kartini dan seorang kartono  sudah bersarang di dome seketika dome itu dinyatakan layak untuk dihuni. Sementara 2 orang kartono yang lain, Greg dan Ginta berusaha mati-matian membuat perapian. Hasilnya, sampai larutpun api itu tak kunjung nyala.

Pagi hari, 23 April 2010.
Puncak Garuda,we’re coming!
Session 2 perjalanan, pokoknya harus sampai puncak apapun yang terjadi! Perjalanan menyenagkan, bertemu dengan orang-orang yang menyenangkan pula. Di punggungan tempat prasasti banyak di bangun, kami bertemu dengan 7 orang turis. Sempat terjadi sedikit percakapan dengan turis Jepang yang ramah itu. Sementara turis wanita yang lain cukup gila, karena mau saja buang air di balik perdu. Padahal kita ada di dekatnya waktu itu. Turun dari punggungan, sampailah di Pasar Bubrah, dataran luas berbatu dan berdebu.

Track berikutnya adalah yang paling sulit.  Berhasil melalui track yang homogen ini, berarti pula kita berhasil sampai puncak.  Saat itu matahari bersinar terik. Mau tak mau kulit kami bakal terbakar.  Tak ada tempat teduh se jengkalpun. Track ini lebih mirip tumpukan batuan, rata-rata sebesar kepala. Tapi ada juga yang sebesar mobil Toyota Starlet.  Ada yang telah solid ada pula yang masih rapuh. Ada yang tertanam kuat, ada juga yang baru menumpuk batuan yang lain. Bau belerang tak begitu tercium, tapi tampak juga asapnya di beberapa zona.  Sedikit naik lagi ke tumpukan batuan, tampak kawah yang telah mati. Tak lama kemudian, sampailah kita ketempat yang disebut Puncak Garuda. Kartini Anggita adalah yang pertama, di susul Kartono Ipul, Greg, Susi dan Terzi. Tak ada kata istirahat. Aksi jeprat jepret terus dilancarkan. Ketika mulai bosan memotret, Ginta baru sampai puncak. Puncak ini cukup luas. Batu besar kecil, kerikil, dan pasir berkolaborasi membentuk kombinasi yang WOW. Suasana lebih dramatis lagi saat kombinasi tadi ditambah dengan pemandangan kawah kekuningan yang selalu mengeluarkan asap. It’s really MERAPI!
Walau masih ingin tinggal lama, kami harus turun. Jalur turun yang digunakan adalah jalur alternative, berbeda  dengan saat naik. Tepat pukul 22.00, ketiga motor kami mendarat di PKM Joglo.  Ini berarti perjalanan telah usai,  karena semua yang telah terencana di sini akan berakhir di sini juga.

SO, WAPEALA IS WAITING FOR THE NEXT ADVENTURE

ARE YOU READY ?
Oleh W 582 Ctr











 




Postingan populer dari blog ini

pengenalan diving (mari menyelam).

Gunung Slamet, Keparingan Slamet Dumugi Mandhap.

Mahameru, Butiran Pasir Keteguhan