Ekspedisi Pandawa Ailurops ursinus ke gunung Arjuna Welirang (bag. 2)

21 Agustus 2008

Hari ini kami akan melanjutkan pendakian ke Puncak Welirang. pukul 04.30 WIB kami sudah bangun dan memulai rutinitas kegiatan seperti hari-hari sebelumnya. Pagi ini, Tera dan Sindi mendapat giliran untuk memasak. menu soup, kering teri dan keripik tempe menjadi menu untuk pagi ini. Pepi, Ginta dan Farida bertugas untuk packing alat. Namun, walaupun pembagian tugas sudah ada, kami melakukannya bersama-sama. Lembah Kidang merupakan tempat yang sangat menyenangkan. Selain sumber airnya berlimpah, udara dan pemandangannya pun begitu sejuk dan indah. Pukul 06.30 kami mulai makan dan dilanjutkan dengan packing semua perlengkapan. Setelah semuanya beres, kami melakukan stretching dan dilanjutkan dengan resection.



Sekitar tiga puluh menit berlalu, akhirn ya pukul 08.00 WIB kami memulai perjalanan. Namun sebelumnya, Sindi sebagai koordinator lapangan memimpin doa terlebih dahulu. Setelah berdoa, Perjalanan pun dimulai. Melewati jalan setapak yang dipenuhi semak belukar hingga sampai di Pondoan. Tiba di Pondoan kami pun segera membuang semua sampah yang ada setelah itu pendakian dilanjutkan menuju Puncak Welirang. Jalan berbatu sekaligus berdebu manjadi awal perjalanan kami. Awal perjalanan kami sempat panik, kerena baterai kamera yang dibaea oleh Ginta hilang. Akhirnya perjalanan dihentikan dan Ginta turun kembali ke bawah untuk mencari baterai tersebut. akhirnya, syukur alhamdulillah baterai tersebut ditemui Ginta kembali.

Setelah Ginta kembali, perjalanan dilanjutkan. Saat itu udara begitu panas dan anginya pun cukup kencang sehingga debu membuat perjalanan kami terganggu. Kami melewati jalan pendaki yang cukup nyaman, karena jalannya tidak berdebu. Akan tetapi, jalur pendaki lebih terjal dan dipenuhi semak belukar. Sesekali, kami bertemu dengan penambang belerang yang baru turun dari puncak sambil membawa belerang. Selama perjalanan, tanaman arbei sering kami jumpai. Kami pun sesekali memetik dan memakannya. Pukul 12.30 kami menghentikan perjalanan. kami terpaksa harus ISHOMA di pinggir jalan karena sepanjang jalan tidak ada tempat yang landai beruntung saat itu tidak ada penambang belerang yang lewat.

Setelah selesai solat dan makan, kami mulai resection dan membuat jalur. Setelah itu, Ginta yang sudah selesai resection justru tidur di sebuah batu. Hal tersebut membuat Pepi, Farida, Tera, dan Sindi jengkel. Karena disaat kami sibuk merapikan peta dan makanan, Ginta justru asyik tidur. Akhirnya Pepi membangunkannya sekaligus menegurnya. Kemudian perjalanan dilanjutkan kembali. Saat itu udara mulai terasa dingin. Kabut pun perlahan mulai menyelimuti. Kami sempat khawatir jika terjadi badai di puncak. Namun, hal itu tidak membuat kami putus asa untuk mencapai puncak. Setapak demi setapak kami lewati jalan yang berbatu sekaligus berdebu sambil mengamati tanaman sekeliling. Sepanjang perjalanan, hanya tanaman arbei yang kami temui. Tidak jarang, kami memetik arbei dan memakannya sambil jalan. he2..

Mendekati puncak, kami melewati hutan kecil, yang cukup rindang dan nyaman untuk istirahat. Hutan teresbut dipenuhi oleh pohon-pohon mirip dengan tanaman hias. Awalnya, kami merasa puncak Welirang begitu dekat. Namun, setelah kami telusuri setapak demi setapak ternyata jalannya cukup panjang. Kami sempat putus asa untuk sampai puncak. Akan tetapi pepi mengembalikan semangat kami, hingga sekitar pukul 16.30 WIB kami akhirnya sampai puncak dan kami pun langsung foto. Sekitar sepuluh menit kami barada dipuncak, setelah itu kami segera turun karena bau belerang semakin menyengat dan membuat perut mual serta pusing.

Saat kami hendak turun, angin bertiup kencang, sehingga kami memutuskan untuk bermalam tepat di bawah puncak. Beruntung, kami menemukan sebuah gua. Menurut data yang kami peroleh, ternyata gua tersebut merupakan peninggalan Belanda yang konon merupakan sebuah villa Belanda. Kami pun memasuki gua tersebut. barang-barang dalam carier kami keluarkan. Dan kami mulai mendirikan tenda serta mmpersiapkan alat masak. Setelah tenda berdiri, kami semua masuk tenda. Udara yang sangat dingin membuat kami harus tidur bareng-bareng dalam satu tenda. Bisa dibayangkan, bagaimana rasanya bermalam disebuah tempat dengan ketinggian lebih dari 3000 meter. Setelah selesai evaluasi, kami pun tidur. Saat itu kami benar-benar terlelap dalam dinginnya malam.


22 Agustus 2008

Pukul 05.00 kami sudah mulai bangun. Padahal, pagi itu udara masih sangat dingin. Tubuh kami pun masih terasa kaku. Rasanya malas untuk beranjak dari matras. Namun, pagi ini mau tidak mau kami harus kembali beraktivitas seperti biasa. Masak, packing, stretching, dan ormed (orientasi medan) merupakan kegiatan rutinitas yang kami lakukan. Hari ini merupakan hari terakhir kami, melakukan pendakian dan pendataan tanaman obat. Setelah mencapai dua puncak; Arjuna - Welirang, sekarang sudah saatnya kami kembali ke peradaban. Kami mengawali hari dengan penuh semangat.

Kami mulai melakukan perjalanan turun sekitar pukul 06.30 WIB. Saat turun, kami menyempatkan diri untuk foto bersama kemudian kami bertemu dengan dua orang pendaki asal Bandung yang juga akan melakukan perjalanan turun, kami tidak sempat berkenalan karena mereka jalan begitu cepat hingga kami pun berpisah. Perjalanan menuju pondoan kami lewati dengan menyenangkan. Perjalanan tersebut diwarnai dengan keceriaan. Akan tetapi, begitu kami melanjutkan perjalanan menuju Kokopan seringkali terjadi konflik. Konflik tersebut disebabkan oleh Sindi dan Tera yang berjalan lambat.

Dalam perjalanan, kami pun sempat terpisah. Namun kami akhirnya bertemu di pos Kokopan. Saat itu kami semua benar-benar merasa ”bad mood”. Diperjalanan kami saling diam, suasana terasa beku bagaikan es. Hal ini mungkin dikarenakan kondisi kami yang mulai lelah sehingga bawaanya jadi emosi terus. Tapi begitu sampai disebuah gubuk, kami beristirahat sejenak. Saat itu suasana yang tadinya beku menjadi cair kembali. Kami pun saling bercanda dan tertawa bersama. Setelah beristirahat, kami melakukan perjalanan kembali menuju desa Tretes.

Suara keramaian pun mulai terdengar, namun kami masih harus melewati jalan berbatu yang penuh lika-liku dan hal tersebut membuat tenaga kami terkuras. Di pos Pet Bocor kami istirahat sejenak. Dan kemudian kembali melanjutkan perjalanan menuju peradaban. Dari pos Pet Bocor menuju desa Tretes hanya diperlukan waktu sekitar ± 15 menit tanpa barang bawaan. Namun, denagn kondisi carier di pundak dan tenaga yang telah diporsir kami menempuh jarak Pet Bocor-Desa Tretes selama 45 menit. Kami melewati jalan panjang yang telah diaspal di kegelapan malam.

Setelah itu, telihat lampu kota menerangi malam itu dan akhirnya syukur alhamdulillah kami sampai juga di desa Tretes.kami pun langsung menuju basecamp (PHPA pendakian) untuk konfirmasi. Setelah itu kami menuju warung makan kaki lima yang jaraknya tidak jauh dari pos. Malam itu kami makan bakso. Rasanya begitu lezat dan nyummy... setelah selesai kami pun kembali ke PHPA pendakian dan alhamdulillah sat itu, kami diizinkan untuk mendirikan tenda di halaman PHPA tersebut. kami bergegas untuk mendirikan tenda dan kemudian kami pun segera melakukan bersih-bersih badan alias mandi. Rasanya begitu segar setelah lima hari tidak mandi. Selesai mandi, kami pun bergegas masuk tenda untuk beristirahat dan memulihkan stamina tubuh.


23 Agustus 2008

Pukul 05.00 pagi, kami sudah bangun. Kami mulai masak untuk sarapan pagi kemudian siap-siap untuk packing. Sekitar pukul 09.00-an kami telah siap. Dengan baju rapi dan tentunya bersih, kami pun memabagi tugas untuk wawancara. Sekitar dua jam kami wawancara, kemudian kami kembali ke pos pendakian dan kami pun berpamitan dengan pengelola pendakian, Pak Syukur. Beliau telah banyak membantu kami dalam memperoleh informasi dari mulai pra hingga pasca kegiatan.

Setelah berpamitan dan foto-foto kami pun meninggalkan tempat tersebut. Dengan menaiki mobil odong-odong, kami menuju ke terminal Pandaan. Beruntung, saat kami tiba di terminal bis jurusan Surabaya tepat berhenti di luar terminal. Akhirnya kami pun segera naik bis tersebut. Walaupun bis nya tidak ber-AC, namun, hal tersebut tidak masalah bagi kami. Saat itu, yang terpenting adalah kami dapat kembali ke Semarang secepatnya. Dengan membayar Rp. 4000/orang, akhirnya kami tiba di terminal Bengurasih. Dari terminal ini, kami masih harus menaiki bis tujuan Stasiun pasar Turi. Sekitar 25 menit waktu yang dibutuhkan dari terminal Bengurasih menuju Stasiun pasar turi.

Ternyata, Kota Surabaya tidak jauh beda dari Jakarta. Jalanannya macet dan polusi dimana-mana. Selain itu, udaranya pun cukup panas bahkan melebihi kota Jakarta. Kota Surabaya tidak seindah dan sebersih kota Malang. Meskipun infrastrukturnya berkembang namun ekosistemnya terlupakan. Jarang sekali ditemui pohon-pohon selama perjalanan. yang ada hanyalah gedung-gedung bertingkat yang berdiri kokoh ditengah keramaian dan kebisisngan kota Surabaya. Setelah lelah menghadapi kemacetan, akhirnya kami sampai juga di Stasiun Pasar Turi. Kami pun segera turun dari bis yang penuh dan sesak tersebut. kami tiba di Stasiun pukul 15.40, setelah itu kami langsung membeli tiket. Namun, hari ini kami tidak beruntung karena tempat duduknya sudah terisi semua. Namun demikian, kami tetap membeli tiket tersebut dengan menanggung konsekuensi untuk berdiri.

Berhubung keretanya belum datang dan perut kami sudah berbunyi, akhirnya kami makan siang dulu di sebuah warung Soto. Setelah menikmati kelezatannya, kami pun kembali ke Stasiun. dan ternyata keretanya sudah tiba. Beruntung kami tidak ketinggalan. Kami pun naik kedalam kereta dan mencari tempat yang enak untuk duduk. Beruntung, ada bangku yang kosong. Akhirnya, Sindi, Tera, dan Farida bisa duduk dengan nyaman dibangku tersebut. sedangkan Pepi dan Ginta terpaksa harus ngampar di dekat pintu masuk kereta. Setelah menunggu beberapa menit, kereta pun jalan. Beberapa menit kereta jalan, Sindi menanyakan keberadaan peta. Setelah dicari ternyata petanya tidak ada dan kami tersadar bahwa petanya tertinggal diwarung soto saat kami makan siang. Saat itu, kami benar-benar takut sekali. Kami bimbang antara diambil atau tidak.

Akhirnya ketika kereta berhenti di stasiun pertama, Plamongan, Pepi turun untuk mengambil peta tersebut. Diperjalanan, kami benar-benar cemas. Kami takut jika petanya hilang, karena peta tersebut merupakan bukti perjalanan. Saat dikereta, Perasaan takut dan malu membayangi pikiran kami. Apalagi Pepi tidak menjawab sms dan telpon kami. Entah apa yang harus kami katakan begitu sampai di Semarang. Pukul sepuluh malam kami akhirnya sampai di stasiun Tawang. Lalu kami menelpon sekretariat WAPEALA untuk minta dijemput. Akhirnya setelah menunggu sekitar lima menit, kami pun di jemput dan kami tiba di PKM sekitar pukul 22.30. begitu tiba di PKM, kami sempat merasa malu karena salah satu anggota tim kami masih berada di Surabaya (Pepi). Namun apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Tiba di PKM kami pun segera membereskan alat-alat yang kami bawa. Setelah itu, kami istirahat ditempat masing-masing.


24 Agustus 2008

Pagi harinya, kami mendapat kabar dari Pepi bahwa petanya ditemukan. Dan ia dalam keadaan baik-baik saja. Walaupun harus menjadi ”gembel” selama satu hari. Karena ternyata, ia terpaksa tidur di stasiun. sebenarnya kami tidak tega mendengarnya, namun kami pun tidak bisa berbuat apa-apa. Sekitar pukul sembilan malam, Pepi menelpon sekretariat WAPEALA untuk minta dijemput. Saat itu sedang bertepatan dengan persentasi tim Caving dan Rafting. Akhirnya Demi yang menjemput Pepi di stasiun Poncol. Dan mereka tiba di PKM dengan selamat.


- THE END -

Postingan populer dari blog ini

pengenalan diving (mari menyelam).

Gunung Slamet, Keparingan Slamet Dumugi Mandhap.

Mahameru, Butiran Pasir Keteguhan