Ternyata gua yang Kami masuki adalah Gua Glatik

Salam speleo,

Adzan Dhuhur mengantar perjalanan Kami menuju Desa Kemadohbatur Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan. Saya, Ali (Wapeala), Sasa (Astacala), dan Remi (Mawapala), Toldi (Matepala) sudah berminggu-minggu merencanakan kegiatan ini. Jalan Gubug-Purwodadi yang rusak membuat perjalanan Kami terhambat karena terdapat lubang-lubang yang cukup besar di jalan yang hampir membuat kita jatuh. Sesampai di Kota Purwodadi Kami mampir ke Satkorlak untuk sekedar beristirahat.

Pukul 16.30 Kami sampai di rumah Pak Bambang atau kamituwo. Kami tidak mengira kalau ada anak-anak ASC (Acintyacunyata Speleological Club) yang akan melakukan Pemetaan Gua Kembang. Setelah mengobrol ngalor-ngidul dengan anak-anak ASC Kami kemudian menuju rumah Pak Loso untuk menginap. Pukul 23.15 Toldi (Matepala) sampai di Pak Loso. Kami kemudian briefing untuk persiapan explore besok pagi.

Pukul 04.00 Kami bangun dan packing alat. Pukul 05.55 Kami kemudian mencari Gua Glatik yang berjarak sekitar 2 km dari basecamp. Sepanjang perjalanan Kami menyusuri hutan dan naik turun bukit. Kami juga bertanya penduduk setiap kali bertemu penduduk yang sedang lewat maupun di ladang. Dan akhirnya Kami bertemu dengan penambang batu posfat, kemudian Kami ditunjukkan Gua Dadap. Karena Kami penasaran maka Kami sepakat untuk memasuki gua tersebut.

Mulut gua berbentuk slope dengan diameter sekitar 10 meter dan kedalaman 7 meter serta memiliki dua lorong dari mulut gua. Bermodalkan pengalaman, skill, keberaniaan, dan webbing akhirnya Kami turun dengan tehnik free climbing. Kami sepakat untuk explore lorong sebelah kanan. Baru berjalan 10 meter Kami menemukan cekungan pada lantai gua yang terbentuk dari tetesan air pada stalagtit. Cekungan ini terdapat air yang cukup jernih dan biasanya digunakan oleh penduduk untuk sekedar menghilangkan rasa haus pada saat mereka bekerja di ladang.

Disebelah cekungan juga terdapat stalagmit yang hampir menjadi pilar. Selama penelusuran Kami juga berjumpa dengan sekelompok stalagtit dan stalagmit yang masih kecil dan sempat menghalangi langkah Kami untuk masuk. Lorong yang sempit dan pengap membuat Kami kesulitan untuk memasuki gua Dadap, bahkan Kami juga sempat memakai tehnik belly-crawling, crawling, bear walking, crouching, dan duck walking. Kami juga melalui genangan air yang tidak terlalu tinggi. Penelusuran berhenti ketika Kami sampai di lorong yang sangat sempit dan tidak mungkin Kami lewati. Kami sepakat untuk kembali ke mulut gua. Sesampai dimulut gua jam Kami menunjukkan pukul 09.00, berarti Kami menghabiskan 1,5 jam untuk explore lorong sebelah kanan. Setelah semua naik ke mulut gua maka Kami menuju basecamp untuk makan pagi dan beristirahat. Sesampai di basecamp Kami ngobrol dengan Pak Loso, ternyata gua yang Kami masuki adalah Gua Glatik.

Karena kelelahan Kami terlambat bangun, rencana explore Gua Pakel setelah dhuhur menjadi survey lokasi Gua Pakel pukul 17.20. Kami tidak menyangka kalau di sekitar mulut Gua Pakel terdapat semak belukar yang menghalangi mulut gua tersebut. Adzan magrib menyuruh Kami untuk segera kembali ke besecamp dan melaksanakan sholat magrib. Setelah sholat Kami briefing sebentar untuk memutuskan gua mana yang akan Kami explore malam ini. Kami sepakat explore Gua Kembang yang downstream karena kalau Kami explore Gua Pakel maka Kami akan bekerja dua kali. Kami kemudian packing dan menyiapkan SRT (Single Rope Technique) set lalu tidak lupa untuk makan malam. Pukul 20.00 Kami meninggalkan basecamp menuju Gua Kembang.

Gua Kembang merupakan gua vertikal dengan kedalaman 30 meter dan diameter 4 meter. Gua ini berair dan berlumpur, menurut Mas Boim(ALB Wapeala dan mantan Ketua ASC) sungai di Gua Kembang terhubung oleh Gua Urang. Gua yang memiliki dua lorong ini juga di huni oleh jangkrik gua, kelelawar, katak, ular, kepiting sungai, kalajengking, semut, dan serangga gua. Keindahan ornament-ornamen gua masih terlihat seperti stalagtit, stalagmit, canopy, gourdam, helektit, dan calcit floor.

Setelah sampai lokasi Saya mengajukan diri sebagai rigging man dan Sasa Saya tunjuk sebagai assistance rigging. Karena Saya sudah biasa memasuki Gua Kembang, maka tidak ada kesulitan untuk membuat lintasan. Toldi dan Remi menjadi basecamp’ers. Saya, Sasa, dan Ali turun memasuki Gua Kembang. Perjalanan Kami sempat terhenti oleh lumpur dengan kedalaman 20 cm – 40 cm. Dengan tekad dan niat, Kami bisa melalui aral dengan mudah. Penelusuran Kami terhenti oleh air terjun yang berteriak-teriak seolah-olah menyuruh Kami untuk kembali. Kami beristirahat diatas air terjun serta menikmati keindahan ciptaan Tuhan. Setelah puas Kami kembali ke mulut gua dan segera memakai SRT set untuk ascending. Ali sebagai cleaner membersihkan lintasan yang telah terpasang. Setelah semua alat selesai di ceklist, kemudian Kami menuju ke basecamp untuk bersih-bersih dan beristirahat. Sesampai di basecamp waktu menunjukkan pukul 03.40.

Penelusuran Kami tidak hanya sampai hari ini saja tetapi Kami berniat untuk melanjutkan explore semua gua yang ada di kawasan Karst Grobogan. Semua gunung di Indonesia pasti sudah pernah didaki, tetapi tidak semua gua di Indonesia pernah ditelusuri.

Gua Dadap atau Gua Glatik merupakan gua paling indah yang penah Saya temui setelah Gua Lintang di Pacitan. Seandainya pemerintah Kabupaten Grobogan bisa mengelola Sumber Daya Alam (SDA) yang ada mungkin dapat menjadi pendapatan daerah. Semoga orang-orang maupun Instansi yang merusak kekayaan alam khususnya Kawasan Karst Grobogan sadar akan akibat yang akan terjadi di masa mendatang. Biota gua sebagai ekosistem gua akan punah dan keseimbangan alam akan terganggu. Saya sebagai pencinta alam juga tidak setuju dengan penambangan yang dilakukan oleh pabrik semen ternama di Gunung Kendeng,Pati.

Apakah pemkab Pati dan instansi terkait hanya menutup mata melihat permasalahan ini? Atau memang mereka tidak merasa memiliki SDA di wilayah kerja mereka? Masih bisakah Kami untuk melihat keindahan alam Kawasan Karst Grobogan bulan depan? Itulah pertanyaan yang ingin Saya sampaikan ke Instansi / Pemerintah terkait.

Mari Kita sadar akan sebab-akibat yang akan terjadi. Hanya para pencinta alam yang sadar akan alam Indonesia tercinta ini. Jika tidak ada Kami (pencinta alam –pen) mungkin alam Indonesia akan rusak dan Global Warming semakin ganas menyelubungi Bumi Pertiwi.

Salam speleo.




Penulis: Muhammad Abdul Chaironi (W-579 Ctr)
Semarang, 30 April 2008

Postingan populer dari blog ini

pengenalan diving (mari menyelam).

Gunung Slamet, Keparingan Slamet Dumugi Mandhap.

Mahameru, Butiran Pasir Keteguhan