EKSPEDISI NDUGU – NDUGU JAYA WIJAYA PAPUA

Pada saat Tim Pertama Ndugu-ndugu tiba di Kecamatan Ilaga, mereka sudah booking porter sebanyak 12 orang dari suku Damal, yang terkenal kuat dan postur badan tingi besar. Dua minggu kemudian pesawat tim kedua tiba di Ilaga ( termasuk kowe lan aku yo Ri ). Selama menunggu ijin Pendakian ke Jayawijaya, kami bertiga ( Alm, Hadi dan saya ) dipandu 3 orang Ilaga. melakukan penjajakan pendakian Gunung Kalabo di barat Desa Paluga.
Setelah saya dan almarhum tiba di puncak sekitar jam 13.00, secara tiba-tiba kabut tebal datang yang disertai hujan kristal es yang lebat. Jalan turun sudah tidak terlihat, disepakati saya yang di depan mencari jalan, sekitar 4 jam turun merayap di tebing ( karena jalan jalur pendakian tidak ketemu ) akhirnya kami sampai kembali di hutan.
Karena hari sudah mulai gelap, berkali-kali kami terperosok disela-sela cabang pohon yang tumbang, karena itu satu-satunya jalan melintasi hutan lebat itu, tidak ada tanah untuk dipijak, kecuali batang-batang pohong yang tumbang.
Terakhir kami harus melewati sungai setinggi dada dengan melawan arus yang deras dan sangat dingin karena pencairan dari kristal es, Jalur ini sesuai dengan pendakian kemarin, kecuali arus dan dan debet airnya lebih besar..
Ditepi sungai itulah almarhum meninggal ... dan saya tersunggkur pingsan di pondok pemburu yang tingginya sekitar satu meter ... jarak saya dan almarhum sekitar 25 meter.
Mungkin karena medan yang berat itulah penyebabnya ....
Setelah kami bisa berkumpul kembali di Ilaga, ada berita dari Undip bahwa Rektor minta semua tim kembali ke Semarang. Besoknya pesawat yang kami tunggu tiba, dengan membawa 4 pendaki dari Univ. Trisakti Jakarta. setelah ngobrol sebentar dengan mereka ( kebetulan 2 diantarnya teman di Speologi ).
Mereka minta porter yang 12 orang itu mereka gunakan.
Kami kembali ke Nabire ... Biak ... Surabaya ,,, Semarang
Setiba di PKM ada barita dari temen-teman guru SD Ilaga ... bahwa keempat Mahasiswa Trisakti tsb sudah tewas dihabisi oleh para porter tadi ....
..... seandainya almarhum masih ada dan kami tetap naik menggunakan porter tadi .. kemungkinan kami semua ..... Itulah yang saya sebut pengorbanan yang tidak bisa saya lupakan dan tidak terbalas ....
Ya begitulah ceritanya ... semoga bisa sedikit mengobati rasa kejenuhan Mas Ferry dan .Semoga Prasasti itu merupakan prasasti yang pertama dan yang TERAKHIR ….Sekali lagi mohon maaf bila ada yang kurang berkenan ... terima kasih atas pyoknya, kami nanti hanya bisa membalasnya dengan mengirimkan VCD hasil liputannya,.... laporan keuangan menyusul ...
Amit mundur ,,, Sekali sedulur tetap sedulur kabeh ....
Kaonak
W-192 TJ

Postingan populer dari blog ini

pengenalan diving (mari menyelam).

Gunung Slamet, Keparingan Slamet Dumugi Mandhap.

Mahameru, Butiran Pasir Keteguhan